Kasi Data dan Informasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jawa Tengah Iis Widya Harmoko mengungkapkan, siklus musim kemarau di Jateng umumnya mulai terlihat sejak Mei lalu. Meski ada kemunduran karena siklus peralihan cukup panjang, mayoritas daerah di Jateng sudah masuk musim kemarau pada Juni ini. “Mayoritas sudah masuk kemarau walau potensi hujan masih terlihat di beberapa daerah pegunungan,” jelas dia, kemarin.
Di beberapa daerah yang masih mengalami musim pancaroba, pihaknya mengimbau warga tetap waspada akan potensi hujan lokal dan cuaca ekstrem, meski terjadinya dalam durasi pendek. Sementara daerah yang sudah masuk kemarau, warga diharap bisa menghemat air, khususnya di daerah kering. “Mungkin dalam waktu dekat sudah masuk musim kemarau secara penuh,” papar Iis.
Mengingat saat ini sudah masuk musim kemarau, masyarakat diminta agar tidak membakar sampah. Musim kemarau sering ditandai dengan banyaknya daun kering yang gugur. Dan, biasanya masyarakat membersihkan tumpukan daun kering itu dengan cara membakar. “Ini berbahaya karena bisa memicu kebakaran,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surakarta Gatot Sutanto, kemarin.
Membakar sampah bisa menimbulkan bencana kebakaran, mengingat musim kemarau biasa disertai hembusan angin kencang yang cenderung kering. Sehingga angin bisa membawa bara api ke titik lain saat proses pembakaran sampah. “Mayoritas kebakaran lahan atau lingkungan hidup karena masalah sepele, seperti membakar sampah,” jelas dia.
Selain berpotensi menimbulkan bencana kebakaran, tindakan membakar sampah juga bisa memicu polusi di lingkungan sekitar. Asap dari pembakaran bisa memicu efek rumah kaca yang membuat lingkungan jadi tidak sehat. Oleh sebab itu, membuat pupuk kompos jadi salah satu rujukan daripada membakar sampah dedaunan yang ada di lingkungan tempat tinggal.
“Kalau organik daripada dibakar mending dibuat pupuk kompos. Kalau nonorganik bisa dibuang di bank sampah lingkungan masing-masing. Sebab, membakar sampah bisa memicu kebakaran dan asapnya bisa mengotori udara sekitar,” tutur Gatot. (ves/bun/ria) Editor : Perdana Bayu Saputra