“Namanya Dovir Olan, kepanjangan dari dumadakan ono virus onta lanang lahir. Sebenarnya sudah dimintai nama dari dulu, ning aku lali,” kata pria yang akrab disapa Rudy ini disela pembukaan pariwisata new normal di TSTJ, kemarin.
Pemberian nama tersebut diutamakan yang mudah diingat agar selalu dikenang masyarakat. Karena itu, nama Dovir Olan dipilih mengingat terasa cocok dengan suasana saat ini. “Kemarin ada dua pilihannya, Dovir Olan (dumadakan ono virus onta lanang lahir) dan Micov (pandemi covid). Dipilih yang pertama karena yang kedua kurang apik. Kalau dumadakan ono virus otak atik gatuk. Ada kaitannya dengan semangat ‘Do Manuto’,” terang Rudy.
Sementara itu, kemarin, juga merupakan momen spesial bagi TSTJ. Mengingat dalam tiga bulan terakhir kunjungan wisata di sana dihentikan sejak Pemkot Surakarta menetapkan kejadian luar biasa (KLB) korona. Pembukaan kembali objek wisata ini ditandai dengan masuknya rombongan Wali Kota F.X Hadi Rudyatmo ke taman satwa seluas 14 hektare ini.
“Mulai hari ini Solo Zoo resmi dibuka. Untuk masyarakat umum wajib menerapkan protokol kesehatan,” terang Wali Kota Surakarta F.X. Hadi Rudyatmo.
Meski sudah kembali beroperasi, pemerintah tetap mensyaratkan sejumlah pembatasan pada pengelola. Salah satunya seperti pembatasan kunjungan bagi anak-anak, ibu hamil, dan orang lanjut usia. Sementara, pengunjung yang boleh masuk hanya mereka yang berusia 18-60 tahun saja. “Aturan ini berlaku sejak Jumat (19/6) sampai 14 hari ke depan. Tujuannya untuk memastikan tidak adanya temuan kasus baru Covid-19 pasca TSTJ kembali dibuka,” jelas dia.
Selama 14 hari ke depan pembukaan TSTJ masih berstatus inkubasi. Bila selama 14 hari ke depan tidak ada penambahan pasien Covid-19 di Kota Solo, maka anak-anak dan ibu hamil boleh berkunjung ke TSTJ.
Seperti komitmen sebelumnya, pengelola tetap membatasi pengunjung setiap harinya. Selain hanya 500 pengunjung, juga dibagi dua gelombang. “Mulai kemarin layanan tiket di depan Jurug Solo Zoo dan lokasi lain sudah ditutup. Semua bisa diakses online,” tuturnya. (ves/bun/ria) Editor : Perdana Bayu Saputra