Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surakarta Siti Wahyuningsih mengatakan, pengemudi ojek termasuk pekerja berisiko tinggi karena kerap mengangkut penumpang. Pihaknya mendekati ketua komunitas-komunitas pengemudi agar bersedia mengikuti rapid test.
“Nggak hanya ojol, tapi opang (ojek pangkalan) juga, roda empat dari Taksi Mahkota, Kosti , dan sebagainya. Antusiasnya luar biasa,” katanya, Sabtu (20/6)
Perempuan yang akrab disapa Ning itu mengatakan, delapan penemudi ojek saat ini diminta melakukan karantina mandiri. Itu dilakukan sesuai protokol kesehatan sembari menunggu hasil uji swab.
“Sasaran kami 120-150 pengemudi ojol, kalau totalnya 120 orang. Terdiri dari 80 pengemudi roda dua dan 40 pengemudi roda empat. Pengemudi roda dua lebih riskan karena biasanya bersentuhan langsung dengan penumpang,” terangnya.
Selain driver ojol, DKK juga menyasar aparatur sipil negara (ASN) di sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) dan perusahaan milik daerah (Perumda). Khususnya mereka yang langsung melayani publik, seperti petugas pemungut retribusi pasar, kasir bank, dan sejenisnya. Jumlah keseluruhan mencapai sekitar 750 orang.
Pada uji cepat masal sebelumnya, pemkot mendapati belasan ASN yang reaktif terhadap Covid-19. Dari situ, tes dilanjutkan dengan uji swab secara polymerase chain reaction (PCR) dan didapati seorang ASN Dinas Sosial (Dinsos) terkonfirmasi positif Covid-19. Selain itu, enam ASN tenaga kesehatan (nakes) juga positif.
Wali Kota Surakarta F.X. Hadi Rudyatmo menegaskan, pemkot akan melakukan rapid test kepada pekerja yang memiliki potensi penularan lebih besar. Orang nomor satu di Kota Solo itu ingin masa new normal dapat disambut dengan penurunan angka positif Covid-19. (irw/wa) Editor : Perdana Bayu Saputra