Di Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Raja Pakoe Boewono (PB) XIII Hangabehi menitahkan agar kirab pusaka ditiadakan tahun ini. Pertimbangannya jelas karena faktor pandemi Covid-19 yang masih merebak. "Terkait Kirab Malam 1 Sura, dawuh Dalem (PB XIII, Red) sudah keluar untuk meniadakan kirabnya," ucap Wakil Pengageng Sasana Wilapa Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, KRA Dani Narsugama Adiningrat, kemarin (18/8).
Menurutnya, keputusan raja itu tepat karena memikirkan kepentingan bersama, terkait penanggulangan dan pencegahan penyebaran Covid-19. Pasalnya, situasi kirab yang diikuti ratusan abdi dan sentana dalem sulit untuk menerapkan social dan physical distancing. "Barisan saat kirab itu riskan, baik untuk abdi dalem yang sepuh maupun yang tidak. Di sisi lain, kirab bisa memicu keramaian karena dilihat masyarakat, yang pastinya akan berdesakan saat melihat dari pinggir jalan. Oleh sebab itu ditiadakan untuk kirabnya," terang Dani.
Kendati demikian, upacara dan ritual adat lainnya terkait Malam 1 Sura tetap digelar secara internal. Hanya saja, pesertanya dibatasi dengan penerapan protokol kesehatan ketat sesuai arahan pemerintah. "Kalau wilujengan-nya tetap jalan dengan pembatasan. Nantinya ada pembatasan peserta yang akan terlibat dalam upacara adat itu. Seperti ulama keraton, abdi dan sentana dalem, serta bebadan (kelembagaan) di keraton. Juga tidak ada undangan khusus untuk giat adat kali ini," papar dia.
Hal serupa juga dilakukan di Pura Mangkunegaran, yang meniadakan giat Kirab Pusakadalem 1 Sura Jimakir AJ 1954 . Selain kirab pusaka, giat pasemedan (semedi) Malam 1 Sura juga ditiadakan untuk umum. Alasannya sama, untuk menghindari kerumunan masyarakat yang berpotensi muncul saat kegiatan rutin itu dihelat. "Tahun-tahun sebelumnya Kirab Pusaka Malam 1 Sura biasa diikuti ratusan masyarakat dan undangan. Karena situasinya masih pandemi, Pura Mangkunegaran sengaja meniadakan kirab pusakanya," jelas Joko Pramudyo, abdi dalem pariwisata Pura Mangkunegaran.
Sejumlah akses umum di area Pamedanan Pura Mangkunegaran juga akan ditutup untuk menghindari adanya perkumpulan masyarakat di Malam 1 Sura. Untuk melengkapi informasi itu, sejumlah spanduk peniadaan kegiatan berukuran besar sudah dipasang di berbagai area Pura Mangkunegaran. Termasuk di tiga gerbang masuk, seperti di gerbang timur, barat, dan selatan Pura Mangkunegaran.
"Masyarakat tidak perlu datang seperti Malam Sura biasanya, karena kegiatannya ditiadakan. Berbagai upacara dan ritual adat lainnya yang tetap digelar seperti giat jamasan pusaka, doa, dan lainnya dilakukan secara internal oleh keluarga dalem saja," papar dia.
Meski sejumlah giat dibatasi, berbagai kegiatan adat yang tetap terselenggara itu tak akan mengurangi kesakralan dari Malam 1 Sura. Mengingat momen hari ini merupakan simbol dari keprihatinan masyarakat Jawa dalam napak tilas setahun lalu. Dengan tetap berharap bisa lebih baik untuk setahun ke depan. "Sura itu soal keprihatinan. Ini sebagai salah satu bentuk prihatin di masa pandemi Covid-19," tutup Joko. (ves/nik/ria) Editor : Perdana Bayu Saputra