Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

6 Kelurahan Ini Rawan Kejahatan Anak, Paling Marak Kasus Grooming

Perdana Bayu Saputra • Jumat, 21 Agustus 2020 | 17:28 WIB
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo bersama wali kota, menteri PPA dan perwakilan Unicef hadiri Hari Anak Sedunia di Taman Jaya Wijaya, Solo, akhir tahun lalu.
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo bersama wali kota, menteri PPA dan perwakilan Unicef hadiri Hari Anak Sedunia di Taman Jaya Wijaya, Solo, akhir tahun lalu.
SOLO - Enam kelurahan di Solo rawan terhadap tindak kekerasan anak. Salah satu faktornya karena kawasan tersebut rata-rata dihuni oleh masyarakat miskin.

Kepala Bidang Rehabilitasi dan Jaminan Sosial Dinas Sosial Kota Surakarta Evi Mahanani menjabarkan, enam kelurahan tersebut adalah Kelurahan Semanggi, Mojo, Pajang, Mojosongo, Jebres, dan Nusukan. Evi menyebut temuan di lapangan terdiri dari kekerasan yang dilakukan anak dan kekerasan yang memakan korban anak-anak.

“Daerah-daerah yang rawan itu rata-rata di daerah perbatasan. Jadi perbatasan antara Kota Solo dengan kabupaten di sekitarnya. Rata-rata memang warga kurang mampu dan tinggal di daerah padat penduduk,” katanya, kemarin.

Kasus yang terjadi di enam kelurahan itu bermacam-macam. Mulai dari pelecehan seksual, perkelahian, anak usia sekolah tidak sekolah hingga grooming. Seluruh kasus dilatarbelakangi ketidakpedulian orang tua terhadap aktivitas anak.

“Yang marak terjadi adalah grooming. Jadi ada laki-laki dewasa menggunakan akun palsu untuk merayu anak-anak agar mau menuruti apa yang diinginkan. Kasusnya sampai puluhan. Sifat anak-anak yang mudah diiming-imingi menjadi celah pelaku grooming,” jabarnya.

Puncaknya, terdapat banyak laporan kejahatan grooming yang masuk ke pemkot. Sebagian pelaku sudah masuk ke meja hijau. Yang menjadi keprihatinan adalah korban rata-rata masih duduk di SMP.

“Mereka (korban) diberi pulsa gitu saja tertarik. Kemudian diajak jalan mau, hingga diajak ke hotel. Tanpa disadari semua kegiatan direkam oleh pelaku. Akhirnya, itu (rekaman) dijadikan alat memaksa korban untuk melakukan apa yang dimau,” papar Evi.

Sementara itu, Wali Kota Surakarta F.X. Hadi Rudyatmo meminta orang tua untuk menjadi guru bagi anak-anak. Dia meminta setiap keluarga memiliki waktu untuk sekadar berdiskusi ringan soal aktivitas yang telah dilakukan sehari.

“Peran keluarga itu sangat penting. Makanya ada lagu harta yang paling berharga adalah keluarga. Itu harus dipraktikkan sungguh-sungguh. Agar anak itu kalau sampai rumah itu bahagia. Kalau sudah bahagia dengan lingkungan rumahnya, maka tidak akan mencari kebahagiaan di tempat lain,” katanya. (irw/bun/ria)

  Editor : Perdana Bayu Saputra
#rawan kejahatan anak #grooming #perkelahian #solo #pelecehan seksual #putus sekolah #kawasan miskin #kelurahan