Fasilitas kesehatan yang sebelumnya diberi nama Panti Rogo itu berperan dalam penanganan wabah Pes yang sudah masuk kota bengawan. “Kepedulian keraton terhadap kesehatan masyarakat sudah terlihat sejak PB VII dengan membangun panti sosial di daerah Beeton (Kampung Sewu) untuk merawat penderita lepra dan gelandangan,” ujarnya.
Panti sosial tersebut kemudian pindah ke Kedung Kopi berlanjut ke Wangkung (Wang artinya orang, Kung artinya miskin). Itu menjadi cikal bakal Panti Rogo yang dibangun PB X di masa selanjutnya.
“Waktu itu yang memimpin Panti Rogo adalah Dr. Radjiman Wedyodiningrat. Dari sinilah, nama beliau digunakan untuk nama jalan di depan RS Kadipolo itu,” ungkap dia.
Panti Rogo dibangun dengan kualitas yang sangat mumpuni pada era itu. Dilengkapi bangsal dan paviliun dengan fasilitas modern. Rumah sakit ini melengkapi keberadaan dua rumah sakit besar lainnya, yakni Zending Hospital (SUD Moewardi) dan Ziekenzorg (Rumah Sakit Mangkubumen sekarang lokasinya digunakan untuk Solo Paragon Lifestyle Mall.
Seiring berjalannya waktu, Panti Rogo berganti nama menjadi RS Kadipolo. Pada 1948, pengelolaannya diserahkan kepada Pemprov Jateng. Sembilan tahun kemudian, dua RS lainnya ikut dikelola Pemprov Jateng.
Layanan di tiga rumah sakit tersebut terintegrasi. Sekitar akhir 1970, RS Kadipolo tidak difungsikan sebagai fasilitas kesehatan karena semua peralatan dan perlengkapan medis dipindahkan ke RS Mangkubumen. Beberapa tahun setelahnya dipakai Arseto Solo untuk mess hingga 1998.
Fakta itu menunjukkan bekas RS Kadipolo menjadi saksi perkembangan sejarah layanan kesehatan maupun situasi Kota Solo. Karena itu, pemkot menetapkannya sebagai bangunan cagar budaya (BCB).
“Ditetapkan sebagai BCB sudah lama. Tapi mulai kajian mendalam untuk menimbang unsur kecagarbudayaannya dan pelestariannya baru di 2019. Bentuk bangunan relatif masih utuh sekalipun terbengkalai. Kendalanya soal kejelasan kepemilikan aset,” terang Susanto. (ves/wa) Editor : Perdana Bayu Saputra