Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Partisipasi Pemilih Pilkada Solo Raya: Solo Anjlok, 5 Kabupaten Naik

Perdana Bayu Saputra • Jumat, 11 Desember 2020 | 16:21 WIB
TPS 039 Dukuhan, Nayu, Banjarsari, Solo mengangkat tema TPS Sadar Prokes, semua petugas mengenakan hazmat untuk menjamin kenyamanan dan keamanan pemilih agar lebih antusias datang ke TPS.
TPS 039 Dukuhan, Nayu, Banjarsari, Solo mengangkat tema TPS Sadar Prokes, semua petugas mengenakan hazmat untuk menjamin kenyamanan dan keamanan pemilih agar lebih antusias datang ke TPS.
SOLO – Prediksi jika partisipasi pemilih dalam pilkada serentak di masa pandemi di eks Karesidenan Surakarta turun, ternyata tidak sepenuhnya benar. Masih ada daerah yang angka partisipasinya melampaui target nasional.

Ketua KPU Kota Surakarta Nurul Sutarti mengakui, dari pantauan di lapangan, tingkat partisipasi pemilih di setiap kecamatan masih di bawah target nasional. Di Kecamatan Banjarsari dan Jebres di atas 70 persen, sedangkan Kecamatan Laweyan, Pasar Kliwon, dan Serengan di bawah 70 persen.

“Sebenarnya sudah terlihat pada saat simulasi Minggu kemarin. Tingkat partisipasinya 70 persen. Jauh dari target nasional 77 persen. Tapi target itu kan dibuat sebelum pandemi corona. Mungkin ada ketakutan dari pemilih datang ke TPS karena corona. Padahal, kami sudah menerapkan 15 norma baru dalam mencegah corona," urai Nurul.

Nurul menuturkan, dari data, partisipasi tahun ini jauh lebih rendah dari pada pilwalkot sebelumnya. Pada Pilwalkot 2005 jumlah partisipasi mencapai 76 persen, kemudian menurun pada 2010 sebanyak 71 persen dan naik kembali pada 2015 menjadi 73,9 persen. Dan 2020 ini turun lagi menjadi 70 persen.

Ketua KPU Sragen Minarso belum mau menyebut soal partisipasi masyarakat. Dia masih menekankan soal angka partisipasi pemilih berpegang pada hasil pleno KPU. ”Karena angka belum kami rilis, ya sabar. Rencana pleno KPU nanti 13-14 Desember nanti,” terang Minarso.

Soal angka yang beredar data partisipasi Pilkada Sragen 2020 di bawah target nasional 77,5 persen, Minarso tidak mau berkomentar lebih jauh. Namun, dia menilai partisipasi pilkada kali ini bakal ada peningkatan.

Sebagai catatan, angka partisipasi pemilih pada Pilkada Sragen 2006 sebesar 71 persen. Lantas 2011 turun menjadi 70,4. Sedangkan Pilkada 2015 hanya 70 persen. ”Versi KPU untuk pilkada 2020 belum bisa disampaikan,” terangnya.

Namun demikian, berdasarkan data perhitungan cepat tim pemenangan calon tunggal Kusdinar Untung Yuni Sukowato-Suroto, partisipasi masyarakat pada Pilkada 2020 mencapai 73,93 persen.

Angka hampir sama terjadi di Wonogiri. Ketua KPU Wonogiri Toto Sihsetyo Adi mengatakan, partisipasi pemilih pada pilkada ini berkisar 71,26 persen dari total pemilih 836.398 orang.

“Di masa pandemi ini secara kuantitatif dan kualitatif tingkat partisipasi masyarakat meningkat. Selain itu, pemahaman masyarakat dalam demokrasi juga ikut meningkat," ungkapnya.

Berdasarkan catatan, pada Pilkada Wonogiri 2015 jumlah partisipasi pemilih mencapai 66 persen. Sementara pilgub 2018 sebesar 69 persen. Sedangkan pilpres dan pileg 2019 tembus 74 persen.

“Perbandingan tingkat partisipasi pada pilkada tahun ini lebih pas jika dilihat dari jumlah pilihan. Misalnya pilkada sebelumnya atau pilgub terakhir. Apabila tingkat partisipasi pilbup tahun ini disandingkan dengan tingkat partisipasi pilpres dan pileg tahun lalu tidak pas. Karena melibatkan banyak tim sukses,” kata dia.

Dia tak memungkiri bahwa sebelumnya mematok target 74 persen partisipasi pemilih di pilkada tahun ini. Hal itu sama sesuai pileg dan pilpres tahun lalu.

“Meski angkanya belum maksimal, tapi kami puas dengan capaian tingkat partisipasi pemilih dalam pilkada tahun ini,” ujarnya.

Komisioner KPU Boyolali Divisi Data dan Informasi Pardiman menyebut, saat ini proses rekapitulasi suara masih berlangsung. Sehingga pihaknya belum bisa memastikan jumlah pengguna hak pilih dalam Pilkada 9 Desember kemarin. Namun, dia melihat animo masyarakat datang ke TPS sangat besar. “Kesadaran masyarakat dalam berdemokrasi juga terus meningkat,” katanya.

Meski secara angka belum berani menyebut, namun Pardiman menyebut  partisipasi masyarakat Boyolali selalu melebihi target nasional. Misalnya pada Pilkada Boyolali 2015 lalu tingkat partisipasi pemilih mencapai 78,65 persen. Atau dari 761.840 daftar pemilih tetap (DPT), yang menggunakan hak pilihnya sebanyak 607.101.

Sementara itu, Ketua DPC PDIP Boyolali, S. Paryanto mengatakan, tingkat partisipasi publik dalam Pilkada Boyolali ini cukup tinggi. Dari 769.844 DPT, yang hadir menggunakan hak pilih mencapai 718.015. “Persentase kehadiran pemilih mencapai 90 persen lebih,” ujar Paryanto.

Tingginya tingkat partisipasi masyarakat ini juga tak lepas dari upaya partai dalam mengambil simpati masyarakat. Kesantunan kader partai dalam mengajak masyarakat untuk menerapkan protokol kesehatan. “Bila dibandingkan pileg, tingkat partisipasi masyarakat meningkat,” ujarnya.

KPU Klaten mengklaim partisipasi pemilih pada pilkada ini mencapai 80 persen. Meski secara data riil  masih menunggu rekapitulasi, namun berdasar data dari Desk Pilkada Pemkab Klaten total terdapat 748.865 suara pemilih. Sedangkan daftar pemilih tetap (DPT) yang ditetapkan KPU sebelumnya 961.070 pemilih.

“Resminya memang KPU belum menyampaikan. Tetapi pemilih yang hadir melebihi Pilkada Klaten 2015 yang hanya 68,23 persen. Saya hanya melihat data yang dikumpulkan dari teman-teman Desk Pilkada Klaten,” ucap Komisioner KPU Klaten Wandyo Supriyatno.

Bila partisipasi pemilih mencapai 80 persen, maka ini akan melebihi target KPU Klaten 77,5 persen. Menurutnya, ada sejumlah faktor yang membuat partisipasi pemilih terdongkrak melebihi Pilkada Klaten 2015. Salah satunya terkait meningkatnya kesadaran masyarakat dalam menggunakan hak pilih.

“Faktor lain, ada kedekatan emosional antara calon bupati dan wakil bupati dengan simpatisan partai. Apalagi dari tiga paslon ini, merupakan ketua partai. Jadi kader akan berjuang totalitas,” ujarnya. Mereka adalah Ketua DPC PDIP Klaten Sri Mulyani yang menjadi calon bupati dan Ketua DPD II Partai Golkar Klaten Yoga Hardaya, yang jadi calon wakil bupati mendampingi Mulyani. Lalu  Ketua DPC Partai Demokrat Klaten One Krisnata yang juga calon bupati.

Sementara data di Desk Pilkada Sukoharjo partisipasi pemilih mencapai 77 persen lebih. Hanya saja, partisipasi pemilih resmi masih menunggu hasil rekapitulasi dari KPU Kabupaten Sukoharjo.

“Partisipasi pemilih di Sukoharjo mencapai 77,74. Di atas rata-rata target nasional 77,5 persen. Namun, resminya tetap dari KPU,” ujarnya.

Ketua KPU Sukoharjo Nuril Huda mengatakan, berdasarkan informasi yang didapatkan KPU dari hasil quick count sejumlah pihak, partisipasi pemilih di Sukoharjo memang melebihi rata-rata nasional 77,5 persen. Dari jumlah suara sah saja, partisipasi mencapai 79 persen lebih. “Untuk resminya nanti akan diketahui setelah rekapitulasi selesai. Jadwalnya 10-14 Desember rekapitulasi di tingkat kecamatan. Kami optimistis partisipasi bisa mencapai 80 persen,” ujarnya. (atn/ren/al/kwl/din/wid/bun/ria) Editor : Perdana Bayu Saputra
#partipasi pemilih #kpu solo #pilkada 2020 #kpu sukoharjo #KPU Klaten #kpu wonogiri #solo raya #KPU Sragen #kpu boyolali