Peringatan Hari Penyiaran Nasional ke-88 sendiri akan dipusatkan di Kota Solo, 1 April mendatang. Kota Bengawan dianggap menjadi salah satu kota penting dalam perkembangan dunia siar di Indonesia.
Salah satu sosok bangsawan asal Solo, KGPA Mangkunegara VII dianggap menjadi salah satu tokoh penting karena menginisiasikan munculnya radio pribumi pertama di Indonesia pada 1 April 1933. Radio milik pribumi tersebut jadi cikal bakal Radio Republik Indonesia (RRI) yang kita kenal saat ini.
"Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunagara ke-VII akan diusulkan menjadi pahlawan nasional bidang penyiaran," ungkap Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat Agung Suprio disela napak tilas penyiaran Kota Bengawan, Minggu (28/8) pagi.
Menurut Agung, kiprah Mangkunegara VII memiliki peran sentral terhadap lahirnya RRI. Oleh sebab itu sosok dan kota kelahirannya menjadikan Solo sebagai lokasi yang tepat untuk memperingati lahirnya Hari Penyiaran Nasional itu. Tak heran dalam giat napak tilas itu rombongan peserta bersepeda untuk mengunjungi sejumlah titik mulai dari Pura Mangkunegaran, Monumen Pers, hingga RRI Surakarta. "Ketiga lokasi ini memiliki rentetan lokasi lahirnya kepenyiaran yang diprakarsari Mangkunagara VII dalam mendirikan Solosche Radio Vereeniging (SRV) bersama Ir Sarsito Mangunkusuma," terang dia.
Dari mini tour itu, rombongan makin akrab dengan sosok bangsawan yang telah menunjukkan eksistensi nusantara pada dunia. Bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka.
"Saat itu radio belum secanggih sekarang, namun SRV mampu menunjukkan pada dunia (khususnya Pemerintah Belanda, Red) tentang eksistensi nusantara. Kami meminta kepada pemerintah, memohon kepada Presiden Joko Widodo agar Mangkunegara VII bisa menjadi pahlawan nasional di bidang penyiaran," harap Agus.
Usulan itu langsung mendapat dukungan dari Wakil Ketua Komisi I DPR RI Dr Abdul Kharis Almasyari. Dia mendukung penuh usulan tersebut untuk mendaftarkan nama Mangkunagara VII menjadi pahlawan nasional. Menurutnya prestasi Mangkunegara VII layak untuk membuat beliau untuk menyandang gelar pahlawan penyiaran. "Hari ini (kemarin) kami bisa melihat jejak penyiaran di tanah air bermula dari SRV. Teman-teman disini mengusahakan agar Mangkunagara VII menjadi pahlawan penyiaran Indonesia, saya setuju sekali," papar dia.
Dalam kesempatan yang sama, Anggota Dewan Pengawas LPP RRI Dwi Hernuningsih berharap agar seluruh generasi muda dan insan penyiaran tidak melupakan sejarah. Menurutnya Kota Bengawan menjadi salah satu kota penting dalam berdirinya RRI. Maka tidak heran jika Solo dipilih sebagai kota penyelenggara Hari Penyiaran Nasional, 1 April mendatang. "Penyiaran di bangsa ini dimulai dari Kota Bengawan, jangan lupa dengan Kota Solo," tutup dia. (ves/nik) Editor : Perdana Bayu Saputra