Sebagai pengingat, batik Alquran mulai dibuat pada 2016 silam. Saat itu, owner Mahkota Batik Laweyan Alpha Fabela Priyatmono dapat kunjungan Ustad Farzain.
“Buku Alquran Follow The Line karya beliau menginspirasi kami dalam membuat Batik Alquran ini. Jadi kami ingin membuat gabungan tentang nilai religius dari Alquran dan ekspresi budaya dari batik,” ungkapnya saat ditemui Jawa Pos Radar Solo.
Proyek akbar ini melibatkan empat hingga lima orang. Dibuat di atas kain ukuran 95 x 115 cm. Proses pembuatannya sama seperti membatik biasa. Yakni menjiplak ayatnya di kertas. Baru kemudian dipindah ke kain dengan media pensil. Lalu dimulai proses pembatikan.
Selama pengerjaan, terdapat proses pembelajaran membaca dan menulis Alquran. Yakni pada saat menjiplak ayat tersebut. Mengadopsi tulisan Alquran gaya Jawa dengan qath Ustmani. Ini merupakan bukti penyebaran agama Islam di tanah Jawa.
“Kami kerjakan setiap hari. Jadi yang membuat sebenarnya tim. Sekarang sudah selesai 30 juz dan masih proses tashih,” katanya.
Rampung batik mushaf Alquran 30 juz, Alpha melirik pembuatan surat-surat pendek. Kali ini menggandeng karyawan bisu dan tuli di Batik Toeli. Proyek ini juga dikerjakan setiap hari. Namun, tanpa mengacu target waktu pengerjaan.
“Sengaja kami merekrut karyawan dari orang berkebutuhan khusus. Karena saya optimistis mereka lebih kelihatan potensinya saat diberi kepercayaan. Total ada tiga karyawan. Tugasnya membuat motif batik dan mewarnai,” urainya.
Kesulitan yang dihadapi dalam proyek surat pendek, yakni komunikasi dengan karyawan berkebutuhan khusus. Maklum, dia belum menguasai bahasa isyarat. Selama ini komunikasi hanya sebatas gerak mulut.
“Saya punya gagasan membuat International Quran Batik Festival. Yakni kegiatan mendatangkan para pelajar atau mahasiswa asing yang belajar di Indonesia. Supaya ikut mempelajari dan berkarya terkait Alquran dan batik,” ujarnya. (mg2/mg4/fer/ria) Editor : Perdana Bayu Saputra