Kepala Observatorium Ponpes Assalaam AR Sugeng Riyadi mengatakan, fenomena alam gerhana bulan total (GBT) akan hadir dan dapat disaksikan dari seluruh wilayah Indonesia pada Rabu (26/5), selepas Magrib atau 15 Syawwal 1442 H. Totalitas gerhana bulan ini akan terjadi pada pukul 18:11.28 - 18:25.56, dan fase puncaknya terjadi pada pukul 18:18.42.
“Bila langit cerah, penampakan bulan akan sangat indah memerah selama sekitar 14 menit 29 detik. Kalau cerah, bisa dilihat dengan mata telanjang, bisa difoto, bisa video,” kata Sugeng, Selasa (25/5).
Menurut Sugeng, secara kasat mata, gerhana dapat dilihat saat fase umbra U1 pukul 16:44.58 hingga U4 pukul 19:52.25. Fenomena gerhana bulan sejatinya sudah dimulai saat bulan belum terbit di ufuk timur yakni kontak pertama P1 penumbra pada pukul 15:47.38 dan berakhir saat kontak terakhir P4 penumbra pada pukul 20:49.47.
“Nah, karena posisi bulan masih di bawah ufuk timur kota eks Karesidenan Surakarta, maka kita baru dapat menyaksikannya jelang Magrib atau mulai pukul 17:25.22 di posisi terbit bulan di arah timur sedikit ke kanan (selatan). Begitu bulan terbit, posisi bulan sudah tertutup oleh permukaan bumi alias sudah gerhana,” katanya.
Menurut Sugeng, seluruh fase gerhana parsial akan berakhir pada pukul 19:52.25, dan warna bulan kembali seperti purnama biasa. Namun, sejatinya bulan masih dalam tahap gerhana penumbra atau samar-samar hingga pukul 20:49.47. Selepas pukul 20:49.47, warna dan status bulan akan kembali menjadi purnama biasa.
“Gambarannya kalau dilihat dari eks Karesidenan Surakarta dan di-zoom dengan kamera, bulan akan tampak memerah di sisi kirinya atau sebelah selatan pandangan kita,” ujarnya. (kwl/bun/ria) Editor : Perdana Bayu Saputra