Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner

Gigolo, Korban Gaya Hidup hingga Dendam

Damianus Bram • Senin, 5 Juli 2021 | 01:43 WIB
Argyo Demartoto, Sosiolog Universitas Sebelas Maret. (Dokumentasi Pribadi)
Argyo Demartoto, Sosiolog Universitas Sebelas Maret. (Dokumentasi Pribadi)
BANYAK faktor yang memengaruhi pria menjajakan diri. Selain mengejar materi, bisa pula disebabkan menjadi korban gaya hidup hingga dendam karena pernah mengalami kejahatan seksual.

Demikian diungkapkan Sosiolog Universitas Sebelas Maret (UNS) Argyo Demartoto.

Menurutnya, gigolo tidak bisa disebut mengalami disorientasi seksual. Sebab mereka masih memiliki hasrat dengan perempuan. Tapi lebih kepada alasan materi.

"Karena tuntutan ekonomi tadi. Sudah menerima sejumlah uang, maka harus memberikan layanan," jelasnya belum lama ini.

Diakui Argyo, masalah ekonomi banyak menyeret pria maupun wanita terjerembab ke prostitusi. Faktor lainnya demi memenuhi gaya hidup.

“Rasa gengsi membuat mereka butuh uang lebih banyak dan cepat. Akhirnya terjebak prostitusi. Apalagi dari sisi pendidikan juga kurang. Bisa pula akibat menyimpan dendam karena pernah menjadi korban kejahatan seksual,” bebernya.

Bersamaan dengan kemajuan teknologi, cara kerja mereka juga berkembang. Dari awalnya menawarkan secara langsung, kini berganti lewat online, hingga muncul istilah cyber sexuality.

"Jaringannya lebih luas. Mereka tidak lagi mangkal. Tapi menunggu klien di media sosial. Tarifnya pasti lebih mahal, karena memanfaatkan gadget," kata Argyo.

Meski mudah mendapatkan uang dalam nominal relative banyak, bukan berarti tanpa risiko. Yang paling mengancam adalah infeksi menular seksual maupun HIV/AIDS. Bisa juga mendapat perlakuan diskriminatif, dicemooh, dan sebagainya.

Sebagai upaya pencegahan, pengenalan alat reproduksi hingga potensi penularan penyakit sangat penting diberikan sejak dini. "Awasi juga pergaulan anak di luar seperti apa," tambah Argyo.

Razia oleh aparat juga perlu diimbangi dengan pelatihan agar mereka mendapat keterampilan dan bisa mandiri, sehingga tidak terjebak kegiatan negatif. “Tapi juga tetap harus diawasi,” ucapnya.

Lebih lanjut diterangkan Argyo, praktik gigolo juga dipengaruhi adanya permintaan klien yang kurang mendapat kasih sayang, kesepian, maupun tak merasa puas dengan pasangan sah mereka. (atn/wa)

  Editor : Damianus Bram
#Sosiolog (UNS Argyo Demartoto #Prostitusi Pria di Solo #Gigolo di Solo