Fenomena ini memprihatinkan. Secara tidak sadar ini menunjukkan sejauh mana kemampuan masyarakat untuk menerima informasi. Ini juga sebagai salah satu indikasi bahwa tingkat literasi masyarakat memang masih rendah. Ada action yang dipicu oleh informasi yang sebetulnya belum jelas kebenarannya.
"Berita hoax itu beredar dari Whatsapp. Nah, ini sekaligus membuktikan kalau data penggunaan media sosial yang paling banyak kedua adalah Whatsapp. Siapapun bisa menjadi produsen informasi di sana. Mereka sendiri yang menciptakan kontennya. Atau mereka hanya membagikan dari sumber lain," ujar Monika Sri Yuliarti, pengamat komunikasi Universitas Sebelas Maret (UNS).
Penyebab masyarakat percaya berita hoax yang beredar adalah emosi. Monika menyebut ketika seseorang emosi, mereka akan menerima informasi tidak dibarengi dengan logika. Terlebih dalam kondisi pandemi Covid-19 seperti saat ini.
"Saat ini, semua orang dalam kondisi emosi yang tidak menentu. Karena waswas, takut, dan khawatir. Ada berita-berita hoax seperti itu membuat mereka tidak ada kesadaran untuk mengecek kebenarannya. Nah, yang seperti itu dilakukan secara masif oleh banyak orang. Fenomena ini miris. Karena membuktikan literasi masyarakat masih rendah," bebernya.
Nah, fenomena masyarakat yang tidak punya rasa empati kemudian melempari mobil ambulans yang lewat dengan batu atau lainnya karena terpicu informasi hoax. Itu membuktikan bahwa proses komunikasi tidak berjalan dengan lancar. Artinya, orang tidak sekadar menerima informasi. Tapi juga harus menginterpretasi.
"Kalau dalam ilmu komunikasi ada sumber, pesan, kemudian diterima oleh orang. Nah, orang itu punya pemahaman. Di sini yang luput adalah dia menerima pesannya tanpa mengklarifikasi dulu. Ini kan salah satu bukti lagi kalau literasi masyarakat Indonesia masih rendah. Meski kadang-kadang kalau disebut seperti itu kita banyak tidak terimanya. Tapi kenyataannya memang begitu," ujarnya. (aya/bun/dam) Editor : Damianus Bram