Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Mangkunegara IX Fokus pada Penggalian Budaya, Buka Istana untuk Publik

Syahaamah Fikria • Sabtu, 14 Agustus 2021 | 12:10 WIB
KGPAA Mangkunegara IX saat menggelar ruwahan di Pendapa Ageng Pura Mangkunegaran, beberapa waktu lalu. (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)
KGPAA Mangkunegara IX saat menggelar ruwahan di Pendapa Ageng Pura Mangkunegaran, beberapa waktu lalu. (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)
SOLO - Sosok KGPAA Mangkunegara IX sangat konsen dalam pelestarian seni tradisi dan sejarah, namun juga terbuka dengan berbagai hal baru. Termasuk memberikan akses istana bagi publik.

Pelaksana Tugas (Plt) Pengageng Kabupaten Mandrapura Pura Mangkunegaran Supriyanto Waluyo melihat sosok almarhum Mangkunegara IX sebagai orang yang arif dan bijaksana, merakyat, dan mudah bergaul dengan siapa saja. Tidak hanya dekat dengan sentana dalem, namun juga akrab dengan para abdi dalem.

“Sangat akrab dengan semua orang. Paribasan karo wong cilik ngerti banget," ucap dia saat ditemui di Pendapi Ageng Pura Mangkunegaran, kemarin.

Mangkunegara IX juga dikenal sangat konsen dalam pelestarian seni tradisi dan kesejarahan. Ini terlihat dalam berbagai upayanya dalam mempertahankan semangat para pendahulunya yang ingin Pura Mangkunegaran jadi pusat pengembangan kebudayaan khas Mangkunegaran.

“Contoh yang paling mudah dilihat adalah lahirnya Akademi Seni Mangkunegaran (ASGA). Selain itu, ada juga rekonstruksi seni klasik yang sempat hilang selama beberapa generasi. Termasuk memberikan kesempatan untuk menyerap berbagai ilmu baru di luar Mangkunegaran,” ujar dia.

Keberadaan ASGA itu diharapkan mampu menjadi pendidikan seni konservasi yang bersumber dari Pura Mangkunegaran. Sebab, seni tradisi sebagai pusat ilmu pengetahuan harus berkembang dan dipertahankan eksistensinya. Agar generasi muda tidak kehilangan arah jika ingin belajar akan tradisi maupun seluk beluk para leluhurnya.

“Makanya fondasi Mangkunegaran sebagai pusat kebudayaan ini dipelihara sampai sekarang. Agar generasi mendatang memiliki rujukan yang benar jika mereka ingin belajar tentang tradisi budaya maupun sejarah Mangkunegaran sehingga tidak kehilangan jati dirinya. Ini yang selalu jadi perhatian Mangkunegara IX meneruskan semangat para pendahulunya," jelas dia.

Selain itu, Mangkunegara IX juga konsen pada perawatan benda dan bangunan. Cagar budaya aset Mangkunegaran peninggalan leluhur dijaga baik dengan lancarnya koordinasi serta komunikasi dengan pemerintah. Khususnya dalam upaya revitalusasi atau rehabilitasi di Mangkunegaran.

“Dalam hal pemeliharaan koleksi-koleksi Mangkunegaran, seperti dokumen dan naskah kuno juga sangat baik. Kerja sama dengan berbagai pihak seperti Perpustakaan Nasional dan sejumlah kampus terkemuka juga menjadi capaian prestasi beliau yang patut dibanggakan. Beliau pengin Mangkunegaran sebagai pusat budaya mamlu eksis hingga bergenerasi ke depan," tegas dia.

Kerabat Pura Mangkunegaran Irawati Kusumorasri membenarkan bahwa Mangkunegara IX menjadi tokoh paling berpengaruh dalam lahirnya Akadeni Seni Mangkunegaran pada 2006 lalu. Beliau sebagai pengageng Pura Mangkunegaran merestui berdirinya ASGA untuk laboratorium seni tradisi. Baik dalam mempertahankan tradisi klasik maupun dalam tujuan melahirkan berbagai kesenian baru.

“Ini menjadi wadah masyarakat, baik dalam negeri maupun manca yang ingin mendalami kesenian dan budaya asli Mangkunegaran. Di sini masyarakat bisa mempelajari tari, pedalangann, karawitannya juga gending-gending Mangkunegaran. ASGA menjadi penunjang pusat-pusat pembelajaran seni lainnya di Solo seperti ISI dan lainnya," papar dia.

Mangkunegara IX semasa menjadi penguasa Dinasti Mangkunegara didominasi pada entitas budaya. Sebab, dia naik takhta di era republik. Berbeda dengan penguasa sebelumnya yang naik tahta di masa kolonial dan Jepang. Sehingga Mangkunagara IX tidak lagi fokus pada entitas politik.

“Karena naik takhta di era republik, saya menilai kiprahnya sangat peduli terhadap pengembangan kesenian. Terutama di Mangkunegaran. Di mana Mangkunegara IX merupakan raja masa kini atau raja modern yang peduli akan perkembangan kesenian," ungkap sejarawan Universitas Sebelas Maret Tunjung W. Sutirta.

Pada masa kepemimpinannya, Mangkunegara IX menempatkan seni, terutama tari mengikuti perkembangan zaman. Termasuk menampilkan Pura Mangkunegaran sebagai pusat budaya Jawa kepada para pengunjung. Misalnya selalu menyuguhkan kesenian seperti tari, wayang kulit, dan fragmen.

“Yang menonjol di era Mangkunegara IX adalah tari gaya Mangkunegaran semakin berkembang. Berbagai karya yang dihasilkan pada masa kepemimpinannya ada Tari Bedhaya Surya Sumirat pada 1990, Tari Kontemporer Panji Sepuh, Tari Harjuna Sastra Bahu, Tari Puspita Retna, Drama Tari Dewa Ruci, dan lain sebagainya," bebernya.

Tunjung menyebut pada zaman Mangkunegara IX, atensi terhadap penggalian kebudayaan Indonesia mendapat perhatian publik. Bahkan memprakarsai istananya untuk area taman bermain anak. Juga ada lembaga pendidikan yang berkonsentrasi kepada seni. Intinya, Mangkunegara IX menunjukkan pemikiran yang kosmopolitan. Terbuka dengan memberikan akses kepada publik untuk memanfaatkan sumber daya di Mangkunegaran.

"Banyak event berskala nasional dan internasional sering digelar di Pura Mangkunegaran. Di halaman Pamedan Mangkunegaran. Pada saat Mangkunegara IX memimpin, dia menyadari sepenuhnya bahwa posisinya hanya pada batas wilayah kebudayaan. Dengan demikian, tentu akan menyadari suasana yang berkaitan dengan lingkungannya. Maka pengembangan yang terkait budaya dan seni memang didorong sedemikian rupa. Agar dimanfaatkan masyarakat di Kota Solo,” jelasnya.

Dari sekian banyak karya yang dihasilkan, Tunjung menilai Tari Bedhaya Surya Sumirat yang paling fenomenal. Menurutnya, tari ini diciptakan pasca Mangkunegara IX naik tahta. Ada satu filosofi yang berkaitan dengan tarian tersebut, sehingga bisa dikatakan sebagai karya terbaik.

“Sebagai seorang pimpinan Dinasti Mangkunegaran, Mangkunegara IX memang mempunyai kebijakan. Visi dan misinya ini yang penting. Membawa Mangkunegaran sebagai entitas budaya itu betul-betul dalam konteks yang sesuai. Saya tidak mendengar ada tarikan politik praktis di Mangkunegaran. Sehingga betul-betul pada masa era kepemimpinannya ini kebudayaan atau tari di Mangkunegaran mendapat apresiasi dari masyarakat. Terutama masyarakat seni," pungkas dia. (aya/bun/ria) 

Gebrakan Era Mangkunegara IX

Karya Tari

-  Tari Bedhaya Surya Sumirat

-  Tari Kontemporer Panji Sepuh

-  Tari Harjuna Sastra Bahu

-  Tari Puspita Retna

-  Drama Tari Dewa Ruci

  Editor : Syahaamah Fikria
#karya mangkunegara ix #SIJ KGPAA Mangkunegara IX #seni dan budaya #Pura Mangkunegaran #Akademi Seni Mangkunegaran