Pergi Jarak Jauh, Epidemiolog UNS: Prokes Lebih Penting Dibanding Swab

Damianus Bram • Dipublikasikan Jumat, 20 Agustus 2021 | 05:30 WIB
Tonang Dwi Ardyanto, Pakar Patologi Klinik Fakultas Kedokteran UNS.
Tonang Dwi Ardyanto, Pakar Patologi Klinik Fakultas Kedokteran UNS.
SOLO Syarat perjalanan jarak jauh menggunakan moda transportasi apapun di masa pandemi wajib melampirkan surat hasil negatif swab test. Baik rapid test antigen maupun PCR. Bahkan, Presiden Joko Widodo secara khusus menekankan tes PCR harus diperbanyak. Ditambah diberlakukannya syarat sertifikat vaksinasi Covid-19 bagi masyarakat yang ingin masuk ke pusat perbelanjaan.

Yang jauh lebih penting dari semua itu adalah penerapan protokol kesehatan (prokes). Bahkan dibandingkan dengan vaksinasi Covid-19. Itu ditegaskan epidemiolog Universitas Sebelas Maret (UNS) Tonang Dwi Ardyanto.

"Saya menyoroti sikap sebagian orang yang merasa aman dan ‘merdeka’ ketika sudah dites usap antigen. Padahal, tes usap antigen belum menjadi jaminan," ungkapnya, kemarin.

Pertanyaannya, seberapa penting seseorang melakukan tes antigen sebelum naik transportasi umum? Jika diminta memilih menjaga prokes dengan baik atau menggunakan tes antigen, Tonang mantap menjawab lebih baik menerapkan prokes dengan betul.

Pria yang juga Juru Bicara  Satgas Covid-19 Rumah Sakit (RS) UNS ini mengatakan, kebijakan pemerintah dalam menekan kasus penularan Covid-19 harus tegas dan jelas.

Sebab, cakupan vaksinasi Covid-19 yang sudah diselenggarakan pemerintah hingga hari ini belum membebaskan Indonesia dari kekhawatiran terhadap krisis kesehatan di masa pandemi.

“Perlu kami sampaikan, dosis pertama vaksin Covid-19 belum mendapat hasil yang diharapkan, sehingga kita perlu luruskan dalam aturan yang ada jangan tanggung,” tandasnya.

Itu berarti, ketika masyarakat ingin melakukan perjalanan jarak jauh menggunakan transportasi masal, Tonang menilai yang terpenting adalah disiplin prokes. Sekaligus didukung penyaringan penumpang. Seperti memastikan penumpang yang masuk ke dalam gerbong kereta tidak batuk dan demam tinggi.

"Perlu diketahui juga bahwa vaksin belum bisa menjadi senjata yang bisa diandalkan secara mutlak. Karena ini baru personal immunity dan belum bisa dikatakan herd immunity," sambungnya.

Menurut Tonang, herd immunity atau kekebalan kelompok dapat terwujud ketika vaksinasi Covid-19 disuntikan kepada masyarakat di suatu daerah yang tidak ada mobilitas keluar-masuk. Namun, jika melihat kondisi di Indonesia, herd immunity belum dapat terwujud. Sebab pemerintah masih membuka akses perjalanan lintas daerah di sejumlah kota/kabupaten dan pulau.

"Bahkan kalau mau mengatakan herd immunity sebenarnya idealis sekali. Kita masih agak jauh dari herd immunity. Tapi pak presiden berulang kali menyampaikan fokus kesehatan, maka ekonomi akan mengikuti," tandasnya. (aya/wa/dam) Editor : Damianus Bram
Epidemiolog UNS Epidemiolog UNS Tonang Dwi Ardyanto herd immunity Prokes Lebih Penting Dibanding Swab Syarat Perjalanan Jarak Jauh