Pantauan Jawa Pos Radar Solo, sejak pagi, sejumlah abdi dalem sibuk menyiapkan perlengkapan kegiatan. Beranjak siang, mereka mengiringi sentana dalem masuk ke Sasana Handrawina, kompleks Dalem Ageng Keraton Kasunanan tempat acara berlangsung.
Sekitar satu jam kemudian, para abdi dalem dan sentana dalem meninggal lokasi acara. Sekaligus menandai bahwa upacara adat telah selesai. “Acara mulai sekitar pukul 10.00. Jumlah peserta tidak lebih dari 200 orang. Ini sesuai arahan pemerintah dalam hal penanganan Covid-19,” ucap Pengageng Parentah Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat KGPH Dipokusumo.
Dipaparkan putra Paku Buwono (PB) XII yang akrab disapa Gusti Dipo ini, upacara adat Hadeging Nagari ini berkaitan dengan peristiwa dijadikannya Desa Sala sebagai ibu kota kerajaan yang baru pada masa PB II.
“Diperingati tiap Suro tanggal 17. Hitungannya sudah 276 tahun terhitung dari 1745,” jelasnya.
Baca Juga: Wilujengan Kasunanan: Gusti Moeng Mendahului, PB XIII Hari Ini
Adapun fokus kegiatan tersebut yakni wujud syukur terhadap eksistensi keraton dan peran-perannya dalam NKRI. “Perhatian pemerintah ke keraton berjalan dengan baik sekalipun dalam masa pandemi. Memang ditimbang dari skala prioritasnya. Disesuaikan asas kebermanfaatannya," beber Gusti Dipo.
Dia berharap, Keraton Kasunanan Surakarta dapat terus mengambil peran sebagai pusat budaya nasional yang adilihung. "Makanya keraton ini tidak boleh salah langkah dalam memainkan berbagai perannya, termasuk dalam upacara adat ini. Pada akhirnya nanti masyarakat bisa menilai mana yang menjadi percontohan dan lainnya," kata dia. (ves/wa/dam) Editor : Damianus Bram