Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Terkait TPP, Abdul Ghofar: Pemotongan Tidak Harus Empat Bulan

Damianus Bram • Selasa, 31 Agustus 2021 | 15:30 WIB
Anggota Fraksi PKS DPRD Kota Surakarta Abdul Ghofar Ismail.
Anggota Fraksi PKS DPRD Kota Surakarta Abdul Ghofar Ismail.
SOLO - Protes yang dilayangkan OPD terkait pemotongan tambahan penghasilan pegawai (TPP) sudah bisa diprediksi. Hal ini diungkapkan anggota Fraksi PKS DPRD Kota Surakarta Abdul Ghofar Ismail. Bahkan dia termasuk orang yang tidak setuju saat rencana ini dibawa dalam rapat DPRD.

Ghofar menilai, menanamkan empati dengan model pemaksaan pemotongan TPP tidak baik. Sebab, TPP yang akan dipangkas itu merupakan penghasilan rutin yang diterima ASN setiap bulannya. Setiap ASN tentu sudah punya perencanaan dalam memanfaatkan penghasilan bulanannya.

"Pemangkasan ini tentu sangat berat, terutama mereka yang golongan kepegawainya masih rendah. Mereka sudah lelah dalam melakukan pelayanan. Yang kita takutkan, pemotongan ini memengaruhi kinerja," katanya.

Ditambahkan Ghofar, postur APBD belum perlu sampai potong penghasilan ASN. Sebab, kebutuhan untuk bantuan tidak terduga (BTT) dan bantuan social (bansos) kurang lebih Rp 110 milar. Ini bisa disisihkan dari pos-pos yang lain.

“Sebagai gambaran tahun lalu dengan target PAD Rp 402 miliar, anggaran BTT Rp 153 miliar, masih bisa dilakukan tanpa potong penghasilan. Dan ternyata Silpa sampai Rp 291 miliar, di mana BTT hanya berkurang sekitar Rp 45 miliar. Sekarang target PAD Rp 513 miliar, dan kebutuhan BTT dan bansos Rp 110 miliar, sehingga  masih sangat aman," urainya.

Ghofar menuturkan, sebenarnya mekanisme APBD dalam kondisi darurat sangat luwes dengam adanya mekanisme mendahului anggaran. Sehingga perencanaannya cukup ketat.

"Jika memang kondisi sangat buruk, maka bisa dilakukan lewat mekanisme kedaruratan dan melakukan efisiensi di beberapa pos atau menunda kegiatan," ujarnya

Mengingat kebijakan ini sudah disetujui DPRD, Ghofar meminta pemotongan TPP jangan diberlakukan sacara mutlak empat bulan atau September hingga Desember. Namun, harus disesuaikan dengan kondisi pandemi yang naik turun.

“Kalau  memang kondisi pandemi bulan tertentu sangat parah dan keuangan pemkot kritis maka dilakukan pemotongan TPP pada bulan tersebut,  tapi jika kondisi pandemi melandai dan keuangan longgar maka tidak perlu dilakukan pemotongan pada bulan tersebut," ujarnya. (atn/bun/dam)

  Editor : Damianus Bram
#Abdul Ghofar Ismail #TPP ASN Dipangkas #Anggota Fraksi PKS DPRD Abdul Ghofar Ismail #Pemotongan TPP ASN Solo