SILVESTER KURNIAWAN, Solo
MEI 2013 lalu, Ester Endang, 65, terpilih menjadi seorang kader BPJS Kesehatan JKN-KIS untuk Prolanis Sejahtera 1 di Puskesmas Ngoresan. Sejak itu, dirinya rutin masuk ke rumah-rumah warga yang memiliki penyakit kronis, seperti diabetes dan hipertensi di lingkungannya. Dari tujuh anggota pada 2013 lalu, saat ini sudah bertambah menjadi 137 anggota yang rutin mengikuti berbagai program JKN-KIS.
Pola kerjanya sebagai kader prolanis kian bertambah saat pandemi Covid-19. Mereka mulai ketakutan dengan keganasan virus Corona. Mengingat banyaknya pemberitaan pemilik komorbid menjadi kelompok paling rentan terpapar virus Corona. Ini diperparah dengan kebijakan bahwa mereka sering dinyatakan tidak layak vaksin.
“Kadang ada anggota yang merasakan penurunan kesehatan, namun takut untuk periksa. Kalau sudah seperti itu, seorang kader ya harus turun untuk melaporkan pada dokter di puskesmas agar dilakukan penanganan lanjutan. Toh periksa atau berobat pun sekarang gratis karena sudah terkaver JKN-KIS,” terang warga Ngoresan RT 01 RW 19, Kelurahan Jebres itu.
Akhir Agustus 2021 lalu, BPJS Kesehatan Cabang Surakarta bekerja sama dengan Pemkot Surakarta melakukan percepatan program vaksinasi Covid-19 dengan prolanis sebagai sasaran prioritasnya. Sejak itu, Ester mulai mengajak kawan-kawannya agar mau mengikuti vaksinasi Covid-19.
“Sejak dikabari akan ada program vaksinasi prolanis, saya rutin mengajak rekan-rekan agar mau ikut vaksinasi. Memang banyak yang takut, makanya saya mencontohkan yang saya alami karena sudah lebih dulu ikut program vaksinasi lansia dari pemerintah. Saya punya diabet, tapi juga bisa vaksin,” jelas Ester.
Seorang kader harus pandai dalam memotivasi sesama prolanis. Walaupun tidak jarang juga harus tegas bahkan sedikit memaksa agar yang ragu jadi lebih yakin untuk mengikuti vaksinasi. Dengan begitu, kondisi rentan dari anggota prolanis bisa semakin kuat. Seandainya sampai terpapar pun tidak sampai parah.
“Memang harus ada yang mengejar-ngejar. Kalau tidak dilakukan secara terus-menerus, ya akan sulit untuk meyakinkan para prolanis agar mau divaksin,” ucap dia.
Kerja keras Ester Endang selama beberapa bulan itu pun terbayar dengan baik saat vaksinasi untuk prolanis dimulai di Puskesmas Ngoresan, Jumat (27/8) lalu. Dari 150 undangan, hanya sebagian saja yang tidak lolos skrining karena memiliki tekanan darah tinggi dan sejenisnya.
“Saya punya riwayat sakit jantung. Kebetulan dokter saya mendaftarkan untuk ikut vaksinasi ini. Sebelum ikut vaksinasi sudah diwanti-wanti untuk menjaga kesehatan. Vaksinasi dosis pertama lancer. Sebulan lagi diminta untuk vaksinasi dosis keduanya,” terang Sri Mardani, 62, salah seorang prolanis asal Gulon RT 02 RW 19, Jebres.
Gotong-Royong Tingkatkan Capaian Vaksinasi di Kota Solo
Kerja sama BPJS Kesehatan dengan Pemkot Surakarta dilakukan setelah adanya nota kesepakatan antaran BPJS Wilayah Jawa Tengah dengan Pemprov Jateng, beberapa waktu sebelumnya. Bentuk kerja samanya adalah langkah percepatan vaksinasi untuk prolanis. Sebab, belum banyak dari kelompok tersebut yang tersasar vaksinasi Covid-19.
“Sedikitnya ada 9.300 prolanis di Solo yang belum tersasar vaksinasi. Maka dari itu, sebelum program percepatan vaksinasi ini dimulai kami sudah memaparkan data ke Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surakarta agar memudahkan pendataan dan proses vaksinasinya,” terang Kepala BPJS Kesehatan Cabang Kota Surakarta Yessi Kumalasari.
Tingkat Kepersertaan BPJS Kesehatan Kota Surakarta telah menyentuh 93,85 persen pada 1 Agustus 2021 lalu. Dari 578.350 penduduk Kota Solo, 542.757 di antaranya sudah menjadi peserta BPJS Kesehatan JKN-KIS. Oleh sebab itu, percepatan vaksinasi untuk prolanis menjadi lebih mudah karena basis data keanggotaannya sudah tersedia. Selanjutnya tinggal melakukan monitoring dan evaluasi selama dua pekan ke depan untuk melihat capaian dalam percepatan vaksinasi itu.
“Sebagai awalan kemarin kami lampirkan 150 data prolanis yang jadi sasaran vaksinasi perdana di Puskesmas Ngoresan. Saat ini, semua data sudah kami lampirkan. Harapannya segera bisa dilakukan di puskesmas-puskesmas lain di Solo. Jika kelompok rentan ini bisa terkaver seluruhnya, target vaksinasi Pemkot Surakarta bisa mekin cepat tercapai. Dengan gotong-royong semua tertolong,” ujar Yessi.
Wali Kota Surakarta Gibran Rakabuming Raka menyambut baik kerja sama dengan BPJS Kesehatan dalam percepatan vaksinasi Covid-19 pada kelompok rentan. Menurutnya, kerja sama seperti itu mampu memperluas sasaran vaksinasi dan mempercepat tercapainya herd immunity di Kota Bengawan.
“Evaluasi data kematian di Solo, 50 persen di antaranya berasal dari kelompok rentan. Makanya, kelompok rentan seperti prolanis ini menjadi salah satu sasaran utama dalam percepatan vaksinasi di Solo. Melihat data yang dipaparkan tadi, ternyata banyak juga prolanis di Solo yang belum tervaksinasi,” terang dia.
Capaian vaksinasi Pemkot Surakarta pada akhir Agustus sudah menyentuh angka 85 persen atau 360.857 orang. Namun jika hanya dilihat dari sasaran yang ber-KTP Solo, capaian vaksinasinya baru menyentuh lebih dari 50 persen. Oleh sebab itu, pemkot tengah gencar-gencarnya memperluas capaian vaksinasi untuk warga asli Kota Solo.
“Sasaran vaksinasi di Solo sekitar 417.151 orang dari total jumlah penduduk di Solo. Kalau 9.300 prolanis bisa divaksin, maka sasaran vaksinasi bisa lebih tepat dan makin cepat dicapai,” tutup wali kota Gibran. (ves/ria)
Editor : Syahaamah Fikria