Memperingati Hari Batik Nasional, karya batik Gusti Kanjeng Ratu Pakoe Boewono di pamerkan di kompleks Keraton Kasunanan Surakarta, Sabtu (2/10.
Kepada Jawa Pos Radar Solo, permaisuri mengungkapkan kecintanaannya pada batik Nusantara, khususnya batik klasik yang lahir dari dalam keraton. Itu mengantarkannya belajar lebih dalam seluk-beluk pembuatan batik.
“Belajar membatik dari berbagai kesempatan. Inspirasinya datang dari pengalaman sendiri. Biasanya pengalaman spiritual. Yang memotivasi saya adalah para pendahulu, permaisuri-permaisuri yang melahirkan batik khusus untuk sang raja,” bebernya di Sasana Nalendra Dalem Ageng Keraton Kasunanan Surakarta, Jumat (1/10).
Jawa Pos Radar Solo berkesempatan melihat batik parang gunung sari, karya Gusti Kanjeng Ratu Pakoe Boewono. Motif batik tersebut terinspirasi pengalaman pribadinya saat melakukan berbagai ritual adat di Gunung Lawu.
Dilihat dari polanya, batik ini berpola klasik karena mengadopsi motif parang. Yang berbeda, motif gunung di bagian bawah kain batik. “Batik parang gunung sari ini saya buat khusus untuk ageman (pakaian) raja yang dipakai secara khusus untuk kegiatan adat tertentu,” terang dia.
Selain parang gunung sari, motif batik lain karya permaisuri PB XIII adalah parang gajah birowo. Batik ini terinspirasi mimpi ketika didatangi seekor gajah dan masuk ke dalam keraton.
“Saya bermimpi bertemu seekor gajah yang marah. Namun saat gajah itu tiba di Sasana Nalendra, gajah itu justru duduk dengan kepala menengadah. Belalainya menjulang ke atas sekaan memberi hormat pada raja. Gajah ini akhirnya saya padukan dengan motif parang yang memang hanya boleh dipakai untuk keluarga raja,” urainya.
Permaisuri selalu menunjukkan batik karyanya kepada PB XIII dan mendapat apresiasi tinggi. “Saya berusaha melestarikan dan mengembangkan batik keraton seperti permaisuri raja di masa lampau. Dan pada peringatan Hari Batik Nasional, saya mengajak seluruh elemen berperan aktif dalam pelestarian warisan adiluhung Nusantara ini,” jelas dia.
Di sela ikut menjaga kelestarian batik, Gusti Kanjeng Ratu Pakoe Boewono tetap menunaikan tugasnya sebagai istri raja dengan berbagai kegiatan rumah tangga. Permaisuri juga aktif beraktivitas di dalam maupun luar keraton. (ves/wa/dam) Editor : Damianus Bram