Dalam kesempatan tersebut putra presiden Joko Widodo mengaku jarang membawa dompet saat berpergian dalam beberapa tahun terakhir. Meski demikian, dirinya tak pernah kesulitan dalam urusan pembayaran karena semua bisa dilakukan lewat sistem pembayaran non-tunai atau cashless. Oleh sebab itu ia menyambut baik adanya percepatan dan perluasan digitalisasi daerah yang ditawarkan oleh Grab dan Ovo tersebut.
"44 Pasar Tradisional di Solo kami siapkan untuk onboarding. Para pedagang dan pembeli kami sosialisasi dan edukasi agar lebih melek digital. Ini juga berlaku untuk pelaku UMKM di Solo," jelas Gibran dalam kegiatan tersebut.
Transaksi pembayaran secara non-tunai juga memberikan dampak positif pada upaya dogitalisasi pasar sehingga bisa memudahkan pelaku usaha dalam menjalankan bisnisnya. Selain itu juga bermanfaat dalam Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerhah untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) , dan mendongkrak Penerimaan Negara Bukan Pajak. "Transaksi secara non-tunasi sangat mudah dilakukan. Pemakaiannya sangat gampang, tinggal tempatkan barkode-nya saat bertransaksi. Ini penting dilakukan karena pandemi memaksa kita agar digital," terang Gibran.
Presiden of Grab Indonesia, Ridzki Kramadibatra mengatakan digitalisasi tersebut terbagi dalam dari zona pasar tradisional dan UMKM. Untuk digotalisasi pasar tradisional akan dirintis di Pasar Gede, Pasar Gilingan, Pasar Jongke, Pasar Kembang, dan Pasar Kliwon. Sementara untuk UMKM akan menyasar 82.531 UMKM. "Kami lakukan edukasi dan adopsi platform digotal pedagang pasar ke ekpsistem digital dan metode pembayaran QRIS, mereka akan mendapatkan intesif dana bergulir dihari yang sama. Kolaborasi Grab dan Ovo ini diharapkan mampu jumlah UMKM yang masuk ke platform digital (khususnya pedagang pasar tradisional), sehingga mencapai 30 juta UMKM di tahun 2024," jelas dia.
Selain menguntungkan para pelaku UMKM, Grab-Ovo PATRIOT ini juga menguntungkan pemerintah karena bisa meningkatkan PAD dan penerimaan negara mengingat layanan ini telah teraviliasi dengan model pembayaran digital untuk pelanggan PDAM, PLN, BPJS, hingga pembayaran PBB di 109 Kota/Kabupaten di seluruh Indonesia. "Kota Surakarta menjadi percontohan terkait Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah (ETP), kami memberikan layanan pembayaran PBB di Kota Surakarta. Kedepan kami akan melengkapi dengan layanan pembayaran pajak dan retribusi lainnya seperti pajak kendaraan, retribusi pasar, pajak pertambahan nilai (PPN), hingga pembayaram biaya pembuatan paspor. Dengan demikian mampu mendukung peningkatan serapan PAD dan penerimaan negara," sambung Presiden Direktur OVO, Karaniya Dharmasaputra.
Kementerian Keuangan Republik Indonesia mengapresiasi langkah Grab dan Ovo dalam peluncuran PATRIOT tersebut. Melalui sambungan telekonferen, Menteri Keuangan, Sri Mulyani menilai kerjasama antara pemerinrah dan swasta itu kolaborasi yang apik dalam pemulihan ekonomi nasional.
"Penerapan transaksi non-tunai yang diterapkan di 12 daerah dapat meningkatkan PAD hingga 11,1 persen. Di Solo sendiri melalui inovasi pembayaran pajak online mampu meningkatkan PAD sebanyak 16 persen (setara 118 miliar) tahun. Pencapaian yang baik ini tentu bisa ditiru oleh daerah-daerah lain," tutup dia. (ves/dam) Editor : Damianus Bram