Berdasarkan data Covid-19 Kota Surakarta pada 18 Oktober, jumlah kasus aktif di Solo hanya 33 orang, di mana 26 pesien isolasi dan tujuh pasien dalam perawatan. Jumlah ini meningkat hingga 91 kasus aktif pada 26 Oktober kemarin. Rinciannya, 78 pasien isolasi dan 13 pasien dalam perawatan. Tingginya angka kenaikan kasus aktif ini sebanding dengan banyaknya temuan siswa terpapar Covid-19 dalam sepekan terakhir.
“Ini sudah terlihat dari klaster-klaster di sekolah dengan banyaknya adik-adik kita yang terpapar," ucap Wali Kota Surakarta Gibran Rakabuming Raka, Selasa kemarin (26/10).
Adanya fenomena itu pemkot mulai mewaspadai munculnya gelombang ketiga Covid-19. Koordinasi dengan pemerintah pusat termasuk dengan sejumlah menteri terkait pun telah dilakukan sebagai upaya antisipasi sekaligus pengendalian jika gelombang ketiga benar terjadi.
"Kami harus siap untuk gelombang ketiga. Kemarin kami sudah briefing dengan Pak Menko, Pak Menkes, dan Pak Menhub juga untuk menghadapi gelombang ketiga Covid-19," terang Gibran.
Pemkot juga mewacanakan untuk menyiapkan lokasi isolasi terpusat (isoter) untuk karantina siswa atau anak di bawah umur yang terpapar Covid-19. Lokasinya di Dalem Priyosuhartan, Laweyan yang selama ini memang telah disiapkan untuk lokasi isoter namun belum sempat digunakan oleh Pemkot Surakarta.
"Kemarin saya sudah perintahkan Pak Sekda untuk mempersiapkan. Nanti itu untuk isolasi anak SD-SMP, sedangkan SMA (dewasa) bisa di Donohudan. Nanti tidak di dampingi orang tuanya," jelas dia.
Sekretaris Daerah Kota Surakarta Ahyani mengaku masih mempersiapkan berbagai kelengkapa. Pihaknya masih menimbang berbagai hal termasuk kondisi psikis anak-anak yang akan menjalani isolasi di lokasi terpusat itu. Jika tidak memungkinkan, maka anak-anak diizinkan menjalani isolasi di rumah masing-masing. "Kami akan cek kondisi rumahnya kalau tidak memungkinkan dibawa ke lokasi isolasi terpusat," kata sekda.
Di bagian lain, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo juga mewaspadai munculnya gelombang ketiga Covid-19. Meski demikian, pihaknya belum mendapat kepastian bagaimana bentuk pembatasan yang akan diterapkan, mengingat segala hal terkait masih harus dikoordinasikan dengan pemerintah pusat.
"Prinsipnya ada atau tidak (gelombang ketiga) kita harus siaga. Termasuk daerah yang sudah level 1 atau 2. Tempat umum yang sudah boleh buka bukan berarti bebas," jelas dia.
Sebagai langkah antisipasi, gubernur menyarankan agar warga tetap di rumah saja saar libur Nataru. Pemprov Jateng menyiapkan tim untuk patroli maupun pengawasan penerapan protokol kesehatan.
"Setuju tidak libur Nataru ditiadakan? Harus dikaji dulu. Kita percepat vaksinasi dan perketat penerapan protokol kesehatannya. Untuk klaster PTM (pembelajaran tatap muka) di Solo, setiap ada temuan sekolahnya langsung ditutup," tutup Ganjar. (ves/bun/dam) Editor : Damianus Bram