Untuk diketahui, pada rancangan anggaran pendapatan belanja daerah (RAPBD) 2022, pemkot mengalokasikan belanja tidak terduga (BTT) senilai Rp 40 miliar. Jumlah tersebut jauh di bawah anggaran BTT 2021 yang mencapai Rp 110 miliar.
“Ini untuk antisipasi gelombang ketiga pada tahun depan. Kalau dilihat siklus kenaikan kasus Covid-19 kan hampir-hampir mirip dengan tahun sebelumnya. Biasanya naik pascalibur panjang,” terang Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Surakarta Ahyani, Kamis (28/10).
Pada tahun ini, imbuh sekda, BTT digunakan untuk melengkapi sarana prasarana (sarpras) layanan dan tenaga kesehatan penanganan Covid-19 di rumah sakit (RS), puskesmas, isolasi terpusat (isoter), vaksinator, bantuan sosial dan lainnya.
Sedangkan BTT 2022 lebih difokuskan untuk pemulihan ekonomi masyarakat, sehingga nilai anggarannya tidak sebesar 2021. “Tahun depan kami masih harus merampungkan pembangunan GOR Indoor Manahan dan proyek lainnya, yakni pembangunan sejumlah sekolah, jalan dan jembatan, pemindahan Puskesmas Banyuanyar ke lokasi baru, dan sebagainya. Jadi kebutuhannya tidak hanya untuk penanganan Covid-19," beber Ahyani.
Wali Kota Surakarta Gibran Rakabuming Raka menambahkan, apabila dana BTT 2022 kurang, maka akan dianggarkan di RAPBD Perubahan.
Selain itu, pemkot masih memiliki Rp 70 miliar dari sisa BTT 2021. Dana tersebut akan masuk sisa lebih penggunaan anggaran (silpa). “Ya nanti kalau kurang dianggarkan di (APBD) perubahan saja. Wong tahun ini dianggarkan Rp 110 miliar nggak habis semua. Kalau diplot semua untuk BTT, ya habis. Nggak bisa bangun jalan, bangun sekolah, dan lainnya," tegas Gibran. (ves/wa/dam) Editor : Damianus Bram