Ketiga instansi pelanggan premium itu membutuhkan aliran listrik berdaya 3.806 KVA dengan nilai investasi lebih dari Rp 1,8 miliar.
"Sampai pada Oktober 2021, dengan penambahan tiga instansi itu, kami mencatat sudah ada 28 pelanggan premium di Kota Solo dengan kapasitas 19,7 MVA," ungkap Manager PLN UP3 Surakarta Joko Hadi Widayat kepada Jawa Pos Radar Solo, Senin (1/11/2021).
Kendati investasi yang dikeluarkan cukup besar, Joko optimistis pihaknya mampu menjual listrik hingga 14,4 juta kWh dalam setahun untuk ketiga instansi tersebut. Pendapatan yang bisa diperoleh dalam setahun mencapai Rp 12,4 miliar.
Sampai akhir tahun, sudah ada beberapa instansi lainnya yang mengajukan permohonan menjadi pelanggan premium. Salah satunya Kantor Mal Pelayanan Publik (MPP) Jenderal Sudirman.
“Sedang kami kaji pengajuannya. Kami memang mencari pelanggan yang jam nyalanya cukup tinggi. Kami tawarkan menjadi pelanggan premium. Karena mereka potensial, perlu keandalan listrik yang lebih bagus," sambungnya.
Joko menjelaskan, layanan premium adalah bentuk dukungan kepada pemerintah menjaga kualitas pelayanan publik selama pandemi Covid-19. Khususnya pelanggan sektor rumah sakit dan instansi pemerintah. "Kami siap berinvestasi demi memenuhi kebutuhan pelanggan. Layanan premium ini tidak hanya menguntungkan kedua belah pihak, instansi dan PLN. Tapi juga berdampak positif dalam memacu perbaikan layanan publik," ujarnya.
General Manager PLN Unit Induk Distribusi Jateng dan Jogja M. Irwansyah Putra menambahkan, tahun ini, pemakaian listrik di Kota Solo tumbuh sekitar 5 persen dibandingkan 2020. Namun jika dibandingkan 2019 sebelum pandemi, pertumbuhannya masih minus 2 persen.
“Sudah membaik tapi belum bisa menyamakan pertumbuhan pada 2019. Targetnya, akhir tahun nanti bisa bergerak di plus year on year 2019, sehingga perekonomian di Solo semakin tumbuh," pungkasnya. (aya/wa)
Editor : Tri Wahyu Cahyono