Dalam sambutannya, Kementerian Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia mengapresiasi langkah Pemerintah Kota Surakarta karena kembali menggelar event tahunan yang sempat ditiadakan selama pandemi kemarin. Hal ini dipandang sebagai langkah yang baik dalam memajukan kesenian asli Indonesia, khususnya seni keroncong.
"Setelah 1,5 tahun kita praktis tak bisa menyelenggarakan kegiatan di ruang publik kali ini kita mulai bisa memulai kembali berbagai aktivitas seiring pandemi yang mulai menunjukkan penurunan kasus. Jadi festival ini merupakan suatu persitiwa yang luar biasa," terang dia.
SKF 2021 yang mengusung tema Historia Keroncong Untuk Milenials diharapkan mempercepat proses regenerasi musik keroncong hingga akhirnya muncul pelaku-pelaku seni yang baru dan mampu melanjutkan estafet kebudayaan.
Ditjen Kebudayaan pun mengapresiasi Ditjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan karena mampu menyediakan lokasi yang representatif untuk pentas seni-budaya.
"Tema ini tentang bagaimana mempertemukan misik keroncong dengan seni budaya lainya sehingga bisa memajukkan proses kreatif dalam berkesenian. Kami ucapkan terima kasih pada pihak kementerian perhubungan ini karena bisa menjadikan terminal menjadi lokasi seperti ini," kata dia.
Dalam kesempatan itu Ratu Keroncong Waldjinah diberi penghargaan oleh Ditjen Kebudayaan sebagai Pengabdi Seni Seumur Hidup (Lifetime Achievement). Ini sebagai kelanjutan dari penghargaan sebelumnya pada sang ratu keroncong yang sempat digelar Pengabdi Seni (untuk musik keroncong) pada masa pemerintahan Presiden Soekarno (1965) silam.
Serah terima penghargaan itu dilakukan oleh perwakilan Ditjen Kebudayaan, perwakilan Ditjen Perhubungan Darat, dan perwakilan Pemerintah Kota Surakarta. "Ini apresiasi yang sangat baik pada Bu Waldjinah dan memberikan kebanggaan luar biasa pada seluruh warga Kota Bengawan," kata Wakil Wali Kota Surakarta, Teguh Prakosa.
Pada kesempatan itu penghargaan lain juga diterima musisi keroncong lainnya seperti Sundari Soekotjo, Intan Soekotjo, Sruti Respati, Endah Laras, dan sejumlah penampil lainnya. "Solo Keroncong Festival adalah ujud dari kemajuan musik keroncong dan menjadi barometer bagi daerah-daerah yang lain yang dapat memberikan energi musikalitas yang pad akhirnya daerah yang lain bisa membuat gelaran keroncong festival dan menjadikan kalender tahunan secara terus-menerus," ucap Waldjinah. (ves/dam) Editor : Damianus Bram