Dalam diskusi yang dimoderatori Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Solo Anas Syahirul, pakar budaya UNS Prof Dr Andrik Purwasito menyebut wahyu keprabon adalah sebuah konsep yang diyakini masyarakat Jawa tentang datangnya sebuah takdir.
Wahyu keprabon bisa datang untuk siapa saja. Dikaitkan dengan suksesi Pura Mangkunegaran, tiga figur yang disebut-sebut bakal meneruskan takhta sebagai Mangkunagoro Xm, yakni GPH Bhre Cakrahutomo Wira Sudjiwo, GPH Paundrakarna Jiwa, dan KRMH Roy Rahajasa Yamin, ketiganya berpotensi terpilih
"Merujuk suksesi Adipati Mangkunegoro IX ke X adalah bersatunya keinginan kontekstual dan situasional dengan wahyu keprabon. Adapun suksesi bisa dari berbagai saluran, konvensional dan nonkonvensial," tuturnya.
Ditambahkan Andrik, sejarah mencatat, dipilihnya seorang penjudi dan dinobatkan menjadi Raja Singasari, yaitu Ken Arok dengan gelar Sri Rajasa Bathara Sang Amurwabhumi pada 1222-1227.
"Ken Arok yang buka siapa-siapa, tiba-tiba ditemukan Logawe dan diangkat menjadi raja. Saat itu Logawe-lah yang melegitimasi seorang penjudi menjadi raja. Akhirnya Ken Arok jadi raja. Logawe bilang, ‘Kamu (Ken Arok) sekarang jadi anak Wisnu’," terangnya.
Lebih lanjut diterangkan Andrik, ciri-ciri wahyu keprabon yang jatuh kepada calon raja yakni wicaksono (unggul dalam pengetahuan lahir dan batin), berpandangan jernih, dan waskito (mampu merasakan hal yang gaib), bisa memberantas kejahatan, serta berkepribadian baik dengan tutur bahasa halus.
Sementara itu, pengamat sejarah Raden Surojo menakar pola suksesi di Pura Mangkunegaran berbeda jauh dengan Keraton Surakarta Hadiningrat.
Kasunanan mempertahankan kepemimpinan sesuai garis keturunan raja. Sementara di Pura Mangkunegaran tidak menganut pola keturunan secara langsung.
"Suksesi di Mangkunegaran sesuai pada realita yang dihadapi, pola situasional, bukan karena keturunan," katanya. (ves/wa)
Editor : Tri Wahyu Cahyono