Mubin Haryanto sedang menata dagangan pisang di pasar darurat kemarin. Sesekali dia melayani pembeli yang datang ke lapaknya. Begitu mendengar kabar akan segera pindah ke bangunan baru Pasar Legi, wajahnya langsung semringah.
“Di pasar darurat itu kan tempatnya terbatas. Jadi tidak semua barang bisa masuk. Makanya ini sudah tidak sabar pengin masuk kios baru,” jelas pria 53 tahun ini.
Pria yang sudah berjualan di Pasar Legi sejak 1984 itu telah merasakan jatuh bangun dalam memulai usahanya. Mengawali sebagai pegawai di salah satu kios, Mubin bisa mengumpulkan keberanian untuk memulai usaha hingga akhirnya terus berkembang dengan transaksi puluhan juta per hari.
“Sebelum pasar terbakar sehari bisa datangkan satu truk pisang. Nilainya kisaran Rp 20 juta. Setelah pasar terbakar drop sampai 50 persen. Ditambah ada Covid semakin anjlok,” kata Mubin.
Pedagang pasar akhirnya mulai beradaptasi dengan berbagai kecanggihan dan modernisasi untuk memasarkan barang dagangannya. Mubin dan pedagang lainnya mulai masuk ke platform jual beli online untuk memasarkan dagangannya yang tak bisa dibawa ke pasar darurat.
“Beberapa lama ini mulai membaik karena sudah bisa memasarkan secara online. Lumayan daripada hanya menunggu pembeli datang,” beber dia.
Di bangunan pasar baru nanti, dia berharap aktivitas jual beli di Pasar Legi bisa kembali seperti sedia kala. Meski memerlukan proses, dia yakin hal itu dapat dilewati dengan waktu tunggu yang tidak lama, tidak seperti waktu pedagang berjuang seperti di pasar darurat dalam dua tahun terakhir ini.
“Harapan di tahun baru nanti bisa lebih cerah dari tahun-tahun kemarin. Semoga bisa pulih seperti semula, syukur-syukur bisa lebih baik,” harap Mubin.
Ketua Ikatan Pedagang Pasar Legi Tugiman menilai, potensi Pasar Legi untuk kembali bangkit cukup besar lantaran infrastruktur dan sarana dan prasarana cukup lengkap. Menurut dia, akses masuk pasar yang semakin banyak membuat pembeli bakal mudah dalam menjangkau barang dagangan yang diinginkan. Tinggal bagaimana pedagang memastikan kualitas barang selalu baik, timbangan yang benar dan akurat, juga pelayanannya ramah pada calon pembeli.
“Memang butuh penyesuaian di lokasi baru, tapi kami yakin semua pedagang bisa menyesuaikan diri. Harapannya semua bisa kompak masuk pasar. Pemerintah harus memastikan tak ada transaksi jual beli di luar pasar. Kalau itu bisa dikawal dengan baik perekonomian di Pasar Legi bisa segera pulih,” hemat Tugiman.
Sekadar informasi, berdasarkan data Dinas Perdagangan Kota Surakarta, Pasar Legi dihuni 3.000 pedagang yang menjual berbagai macam jenis dagangan. Di bangunan baru ini, pedagang dibedakan menjadi tiga macam. Yakni pedagang kios, los, dan pelataran. Total ada 316 kios, 2.110 los, dan 350 pelataran. Dibagi tiga sif, yakni pagi, sore dan malam.
Di lantai dasar nanti ada zona basah untuk pedagang daging dan sejenisnya. Zona semi basah seperti sayur mayur, bumbu dapur, ikan asin, garam, arang, gilingan tepung dan sejenisnya. Kemudian di lantai satu ada gerabatan, sembako, dan perkakas rumah tangga. Dan di lantai dua zona kuliner, area food court, dan pedagang pelataran.
Harapannya segera mulai beraktivitas sehingga memberikan dampak yang baik bagi pedagang. Pedagang tidak usah takut pasar sepi. Sebab, Pasar Legi ini sudah jadi barometer nasional dengan nilai transaksi harian sampai miliaran. “Kuncinya yakin. Bismillah laris usahane,” tutur Pengelola Pasar Legi Nur Rahmadi. (ves/bun/dam)
Komposisi Lokasi Berjualan
- Pedagang : 3000
- Kios : 316
- Los : 2.110
- Pelataran : 350
Pengelompokan Pedagang
- Lantai dasar zona basah (pedagang daging dan sejenisnya) dan zona semi basah seperti sayur mayur, bumbu dapur, gilingan tepung dan sejenisnya.
- Lantai satu ada gerabatan, sembako, dan perkakas rumah tangga.
- Lantai dua zona kuliner, area food court, dan pedagang pelataran.
Jadwal Masuk Pasar
- Rencana pembagian SHP sementara pada 23 Desember.
- Semua pedagang dipastikan sudah masuk pasar pada 31 desember
- Awal Januari peresmian bangunan pasar baru