Itu diungkapkan Kasatlantas Polresta Surakarta Kompol Adhytiawarman Gautama Putra, Selasa (4/1). Dia berbagi pengalaman saat studi banding ujian SIM di Australia dan Singapura.
"Apa yang diunggah (ujian SIM di luar negeri) itu baru sebagian kecil. Ujian SIM di luar negeri lebih sulit," tegas Adhytiawarman.
Di Australia, kata kasat lantas, untuk mendapatkan SIM sangat sulit dan membutuhkan waktu lama. Bisa menunggu empat tahun guna mengantongi lisensi berkendara itu.
Pemohon SIM harus mengikuti ratusan jam pelatihan dan beragam tes sebelum mendapatkan SIM. “Banyak rangkaian ujian yang harus dilalui. Menurut saya, yang paling sulit adalah mengemudi dalam kondisi tertentu. Jadi misal mengemudi di bawah tekanan sepeeti apa, dalam situasi kebencanaan seperti apa, dalam ancaman seperti apa, dan sebagainya. Mental dan psikologis benar-benar diuji. Hal itu yang tidak diterapkan pada ujian SIM di Indonesia," beber kasat lantas.
Saat masih menjabat kasatlantas Klaten, Adhytiawarman mengajak anggotanya studi banding pembuatan SIM di Singapura. Di negara ini tak kalah rumitnya dengan Australia, yakni berstandar tinggi.
"Untuk ujian teori, minimal pemohon SIM harus memiliki nilai 90, baru dinyatakan lulus. Selain itu, ujian praktik menggunakan tekonlogi sensor. Dimana akan dinilai dari posisi duduknya di jok kendaraan. Kecepatanya, pandanganya harus lurus ke depan. Hal-hal kecil sangat diperhatikan. Banyak poin yang harus dipatuhi agar bisa lolos ujian," ungkap dia.
Menurut kasat lantas, membandingkan sulitnya ujian SIM di Indonesia dengan negara lain dianggap kurang pas. Sebab tiap instansi kepolisian di setiap negeri memiliki standar masing-masing. Termasuk ujian SIM yang telah ditentukan korlantas.
"Di luar negeri telah diberlakukan sistem poin atau penalti. Apabila melakukan pelanggaran tertentu, maka pengendara itu mendapat poin. Ketika mencapai batas (pelanggaran) tertentu, SIM bisa dicabut atau ketika perpanjangan mereka harus membuat SIM baru," ungkap dia.
Bagi pemohon SIM yang ingin berlatih praktik ujian SIM, bisa datang ke gedung Satpas SIM setelah jam operasional tutup. "Dan itu gratis ya. Ini bentuk layanan kami dalam melatih kecakapan masyarakat berkendara," terangnya. (atn/wa/dam) Editor : Damianus Bram