Kejadian longsor tebing sungai itu terjadi sekitar pukul 14.30 WIB. Warga setempat dikagetkan oleh suara gemuruh yang cukup keras dibarengi dengan suara benda jatuh ke dalam air. Setelah ditengok ternyata bangunan belakang sejumlah rumah ambrol terbawa aliran sungai. "Waktu kejadian saya sedang ada di luar rumah, kebetukan anak saya yang kecil juga lagi main di luar rumah," kata si pemilik rumah, Sriyani saat ditemui di kediamannya.
Mengetahui kejadian longsor itu Sriyani langsung menenggok bagian belakang rumahnya yang langsung berbatasan dengan aliran Kali Jenes itu. Kamar mandi yang ada di belakang itu pun hilang dan menimbulkan lubang yang cukup besar dibagian belakang rumahnya. "Yang ambrol bagian kamar mandi, padahal beberapa waktu sebelumnya masih saya pakai. Untung waktu ambrol tidak ada orang di dalamnya," kata dia.
Disinggung soal kerugian yang dialami, ia masih belum bisa memperkirakan berapa ongkos untuk membenahi rumahnya yang rusak itu. Ia hanya berharap adanya bantuan dari pemerintah kota. "Rumah ini warisan orangtua, walaupun tidak ada sertifikat tanahnya. Ya semoga ada bantuan dari pemerintah," harap Sriyani.
Ambrolnya bagian belakang 4 hunian warga itu memang sudah diperkirakan oleh seorang warga terdampak lainnya, Surono. Sebelum sebagian bangunan rumahnya ambrol, ia sempat khawatir karena pondasi bangunan rumahnya yang mepet dengan aliran Kali Jenes itu sudah retak sejak beberapa hari sebelumnya.
"Lantai (pondasinya) itu sudah pecah sehari setelah banjir Kali Jenes pada Jumat (21/1) lalu. Ya sejak itu sudah khawatir, akhirnya ambrol betul hari ini. Untung waktu kejadian semua anggota keluarga ada di luar rumah," kata dia.
Berbeda dengan warga terdampak lainnya, rumah milik Surono ini ada sertifikatnya. Oleh sebab itu ia mengharapkan adanya bantuan dari pemerintah mengingat rumahnya itu tidak sekadar untuk hunian namun juga sebagai lokasi produksi kerajinan sangkar burung yang ia geluti. "Harapannya ya ada bantuan dari pemerintah lah," jelas dia.
Sementara itu, demi alasan keamanan, Lurah Pajang, Priadi meminta seluruh warga terdampak untuk meninggalkan hunian masing-masing. Pihaknya sudah menyiapkan lokasi yang bisa dimanfaatkan sebagai tempat tinggal sementata dan dapur umum untuk memenuhi kebutuhan warga terdampak.
"Ada 4 bangunan yang ambrol karena terkikis air sungai. 4 bangunan rumah ini dihuni oleh 4 KK berbeda dengan jumlah penghuni sekitar 13 jiwa. Sementara ini kami siapkan tempat untuk pengungsian dan dapur umum, kebetulan ada rumah kosong yang bisa dipakai. Kalau yang lainnya juga bisa menumpang di kerabat karena ada sanak saudara yang rumahnya berdekatan. Yang penting rumah mereka saat ini tidak ditinggali dulu karena rawan longsor," tegas Priadi.
Sebagai antisipasi kejadian serupa, pihak kelurahan mulai melakukan pendataan warga yang tinggal di bantaran sungai. Dalam pendataan itu, warga yang memiliki sertifikat tanah maupun yang tidak, diwajibkan melengkapi pendataan agar memudahkan identifikasi dan mitigasi kebencanaan yang dilakukan pemerintah.
"Semuanya kami mintai KTP dan KK untuk antisipasi kedepannya. Kalau melihat situasinya memang sebaiknya dilakukan perbaikan tebing sungai," tutup Lurah Pajang. (ves/dam) Editor : Damianus Bram