Ngadiman, 75, yang telah menggeluti usaha pembuatan tahu selama 50 tahun mengatakan, kenaikan harga kedelai sebagai bahan baku utama pembuatan tahu sangat dirasakan para perajin tahu. Untuk menyiasati agar tidak mengalami kerugian, dia memilik mengurangi jumlah produksi.
"Dari November hingga sekarang naik terus. Biasanya beli 2,5 kuintal kini 1 kuintal saja," katanya.
Sebelumnya harga normal kedelai di Kota Solo Rp 8.000 per kilogram, kini naik menjadi Rp 11.000 per kilogram. Secara otomatis keuntungan yang dia dapatkan juga berkurang. Untuk menaikkan harga jual tidak berani karena takut ditinggalkan konsumen.
"Iya sama saja. Misal 1 kuintal dapat Rp 600 ribu, untuk biaya produksi Rp 500 ribu, kan masih Rp 100 ribu. Uang itu diputar lagi. Tidak ada untungnya, hanya bisa buat makan saja pas-pasan," ujarnya.
Tak hanya memenuhi kebutuhan diri sendiri, Ngadiman mengaku juga memiliki 10 karyawan untuk membantunya memproduksi tahu.
"Mau bagaimana lagi, kalau dinaikkan tidak laku, kasihan kalau karyawan berhenti kerja juga. Penginnya ya ada subsidi kedelai biar turun harganya," lanjutnya.
Sementara itu, pabrik tahu lainnya yang berlokasi di Mojosongo, Jebres nasibnya tak jauh berbeda. Pemilik penyediaan rumah produksi tahu, Sunardi menjelaskan, setelah tidak stabilnya harga kedelai, dia memutuskan tak memproduksi tahu lagi.
Dia memilih untuk menyewakan tempat produksi tahu itu ke perajin tahu lainnya.
"Mau bagaimana lagi istilahnya mati ra mati urip yo ra urip (mati tidak mati, hidup ya tidak hidup, Red), bisanya hanya dipertahankan untuk makan saja," jelasnya.
Sunardi mengatakan, tahun lalu memang ada kenaikan dari harga kedelai. Namun tidak berlangsung setelah ada bantuan subsidi harga kedelai dari pemerintah. "Tapi tahun ini belum ada bantuan. Semoga ada bantuan minimal subsidi itu, jadi kami bisa memproduksi massal," ujar dia.
Kondisi sama dialami perajin tahu dan tempe di Boyolali. Setelah mengalami kenaikan harga bahan baku kedelai, mereka menyiasati dengan mengurangi ukuran. Namun, karena banyak pelanggan protes, akhirnya memilih untuk mengurangi laba.
Perajin tahu pong asal Kelurahan Siswodipuran, Boyolali Kota, Yulianto mengatakan, harga kedelai melonjak membuat perajin tahu menaikkan harga. Dia hanya bisa pasrah dan tetap produksi meski laba terbatas. Dalam sehari dia bisa mengambil 35 ember tahu putih yang disetor dari Mojosongo. Satu ember tahu putih berisi 300 potong tahu.
"Harga kedelai kan mahal. Ditambah lagi minyak goreng sempat mahal dan sekarang juga langka. Jadi pernah saya siasati, satu potong tahu saya potong jadi empat, biasanya kan jadi tiga. Tapi banyak konsumen tidak mau, pada protes. Jadi saya potong jadi tiga, labanya yang kurang," katanya saat ditemui di rumah produksinya, Senin (21/2).
Biasanya dia bisa meraup untuk Rp 25 ribu per ember. Namun, kenaikam harga kedelai dan minyak goreng yang langka, dia harus menekan laba. Kini satu ember tahu pong hanya bisa mendapat laba Rp 15 ribu. Sedangkan harga jual tetap sama. Yakni Rp 500-600 per biji tahu pong.
“Saya gak tidak berani menaikan harga jual. Lantaran banyak pembeli yang protes dan enggan membeli,” ujar dia.
Yulianto juga dihadapkan minyak goreng yang langka. Dia kesulitan mendapat minyak goreng curah. Alhasil mau tidak mau dia harus membeli minyak goreng kemasan yang harganya lebih mahal. Yakni Rp 14 ribu per liter. Padahal kebutuhan minyak goreng dalam sehari mencapai 34 kilogram (kg).
Yuli mengaku mendapatkan minyak goreng kemasan dari Salatiga dengan maksimal pembelian dua kardus. "Kalau harga tahu naik. Keuntungan kami juga akan berkurang lagi. Padahal mau naikin harga tahu saja tidak berani," keluhnya.
Hal tersebut juga dikeluhkan perajin tempe asal Dusun/Desa Denggungan, Kecamatan Banyudono, Rejo. Perajin tempe dengan bungkus daun pisang ini telah berjualan sejak 1970. Dalam sehari, pasangan suami istri ini mampu memroduksi 2 ribu tempe.
"Biasanya dijual ke Solo. Paling 2-3 jam langsung habis tempenya. Tapi karena harga kedelai naik, kita mau menaikan harga jual juga tidak bisa. Pelanggan tidak mau. Jadi kami siasati, dikurangi dikit takarannya. Harganya tetap Rp 500 per biji," katanya. (atn/rgl/bun) Editor : Damianus Bram