Sejarawan dari Universitas Sebelas Maret Surakarta Tunjung W Sutirto mengatakan, Gusti Bhre sebagai penerus Mangkunegaran memiliki beberapa tantangan. Pertama, di usia yang masih muda dia harus bisa menjadi pemimpin bagi Pura Mangkunegaran. Model pendekatan komunikasi yang baik antara semua pihak menjadi kunci kesuksesan kepemimpinan.
Kedua, pengalaman, menjadi hal yang perlu didapatkan melalui komunikasi dengan para jumeneng. Komunikasi antara sesepuh kerajaan wajib dibangun untuk memberikan masukan yang dapat dipertimbangkan.
“Jumenengan Mangkunegaran itu harus dibangun komunikasi yang baik. Selain itu, komunikasi antara warga internal Mangkunegaran juga dapat dijadikan sebagai pedoman utama,” ujarnya.
Gusti Bhre sebagai raja baru diharapkan dapat menyeimbangkan antara tata lahir dan tata batin. Sebagai salah satu generasi milenial, pemanfaatan teknologi bukan hal yang baru. Secara teknis permasalahan dapat dengan mudah dihadapi dengan bantuan teknologi. Namun, Solo yang merupakan kota budaya, juga perlu memperhatikan unggah-ungguh budaya.
“Ke depan wajah baru Mangkunegaran memang akan lebih berkembang. Namun, perlu digarisbawahi bahwa Solo adalah kota budaya, unsur rasa batin itu juga perlu dipertimbangkan. Takutnya, nanti timbul sinisme dari masyarakat yang menganggap Gusti Bhre tidak punya unggah-ungguh, jadi memang harus seimbang,” jelasnya.
Diangkatnya Gusti Bhre sebagai pemimpin baru juga akan berpengaruh pada sinergitas antar Mangkunegaran dan Pemkot Surakarta. Sama-sama dinilai sebagai pemimpin generasi milenial, Wali Kota Solo dan Gusti Bhre dapat lebih mudah bertukar pikiran dan bekerja sama. Secara terbuka, kedua pemimpin tersebut memiliki background zaman yang sama. Sehingga akan lebih mudah dalam bersinergi ke depan.
“Pasti akan tercipta suatu sinergitas yang bagus ke depan antara eksekutif dan Mangkunegaran. Melihat komunikasi antara keduanya dinilai akan lebih sinkron. Nilai budaya dan adat di masyarakat juga harus tetap dijaga. Salah satunya dengan banyak menggelar dan mengenalkan event-event budaya Mangkunegaran kepada masyarakat,” jelasnya.
Soal potensi konflik internal terkait keberadaan putra Mangkunegara IX yang lain GPH Paundrakarna, Tanjung mengatakan, belum bisa memprediksi hal itu. Namun, dia berharap tidak ada lagi keluarga yang belum terima dengan pengangkatan GPH Bhre Cakrahutomo menjadi raja baru. Hasil tersebut diharapkan merupakan kesepakatan bersama dalam keluarga kerajaan. Sehingga ke depan tidak terjadi perpecahan. (ian/bun) Editor : Damianus Bram