Kepala Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Surakarta Sutarjo mengatakan, sejak awal Februari ini tim damkar telah melakukan pendataan keberadaan alat proteksi dari bencana kebakaran. Ini dilakukan mengingat banyak pertokoan dan kawasan bisnis masih minim pemahaman soal pentingnya alat pencegahan dan penanganan bencana kebakaran.
"Survei awal itu banyak pertokoan di pinggir jalan seperti kawasan Jalan Dr Radjiman, Nonongan, Nusukan dan sebagainya yang belum memiliki dan minim pengetahuan tentang fungsi alat proteksi kebakaran,” ujar dia, Minggu (13/3).
Sutarjo mengatakan, pendataan ini sangat penting karena selama ini damkar belum memiliki data valid terkait alat-alat untuk penanganan bencana kebakaran di pertokoan dan kawasan bisnis.
Salah satu standar minimal kepemilikan alat proteksi kebakaran adalah memikiki alat pemadam api ringan (APAR). Dari pendataan yang sudah dilakukan diketahui sejumlah toko belum memiliki itu. Sementara yang lainnya masih belum paham bagaimana menggunakan APAR.
"Sebagian belum punya APAR, sebagian sudah kedaluwarsa. Mayoritas tidak tahu apakah APAR-nya masih berfungsi atau tidak," kata Sutarjo.
Damkar siap memberikan sosialisasi dan pelatihan di kawasan pertokoan. Ini dilakukan agar bencana kebakaran bisa diminimalkan. "Ini sebagai upaya pencegahan. Kalau masyarakat sudah paham minimal bencana kebakaran bisa dihindari. Bahkan sekalipun terjadi bisa ditangani dengan cepat dan efektif," jelas dia.
Salah satu pemilik toko di Jalan Dr Radjiman, Suroso mengaku belum memiliki APAR. Pemilik toko material dan bahan bangunan itu masih belum paham bahwa keberadaan alat proteksi kebakaran itu penting dimiliki sebagai upaya pencegahan dan penanganan bencana kebakaran. Namun pihaknya siap untuk menyediakan APAR untuk proteksi dini di toko miliknya. "Dulu ada satu tapi entah kemana saya lupa menyimpannya. Ya nanti kita beli lagi saja," kata dia. (ves/bun/dam) Editor : Damianus Bram