Kepala Satpol PP Kota Surakarta Arif Darmawan mengaku telah berkoodinasi dengan dinas terkait yang mengelola TPU di Solo. Hal itu dilakukan guna memperketat pengawasan, khususnya pada momen sadranan jelang bulan Ramadan ini.
"Kami sudah koordinasi dengan dinas permukiman untuk mengantisipasi aktivitas pungli dari pembersih makam liar yang masih ada di sejumlah area pemakaman di Solo. TPU ini kan aset pemerintah. Sebetulnya perawatan sudah dipenuhi pemerintah. Jadi kalau ada aktivitas lain bisa dibilang pungli," jelasnya kepada Jawa Pos Radar Solo, Minggu (20/3).
Meski demikian dia tak menampik kemungkinan bahwa pemahaman masyarakat masih minim terkait hal tersebut. Karena itu pihaknya tak menyoalkan jika ada warga yang memberikan atas nama kerelaan. Namun jika masyarakat yang mengaku membersihkan makam itu memaksa dan meminta tarif tinggi, lalu membuat peziarah tidak nyaman, maka pihaknya tak akan segan melakukan penindakan.
"Yang diantisipasi kalau meminta dengan tarif yang mahal. Kan di lapangan mereka itu kalau ada peziarah langsung ngerubung, lalu ngabari teman-temannya yang lain. Ini yang membuat masyarakat resah dan tidak nyaman. Kalau sampai seperti itu bisa kami tindak karena masuk kategori pungli," papar Arif.
Terpisah, momen sadranan di sejumlah TPU terpantau dipadati oleh peziarah, seperti di TPU Daksinoloyo, Minggu (20/3). Para penyapu makam di area pemakaman itu mengaku meraup banyak rezeki untuk pada momen sadranan seperti saat ini. Meski demikian para penyapu makan mengaku tak mematok tarif saat menawarkan jasanya.
"Saya tidak mematok tarif, sukarela saja. Ada yang kasih Rp 5 ribu, ada yang Rp 20 ribu. Tahun ini yang ziarah lebih banyak dari tahun sebelumnya," tutup seorang pembersih makam Lestari, 44. (ves/nik/dam) Editor : Damianus Bram