Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner

Walhi Jateng Minta Tunda Operasional PLTSa di Putri Cempo

Damianus Bram • Rabu, 23 Maret 2022 | 13:45 WIB
HASILKAN ENERGI LISTRIK: Persiapan produksi listrik di PLTSa Putri Cempo terus disempurnakan agar April bisa beroperasi. (M. IHSAN/RADAR SOLO)
HASILKAN ENERGI LISTRIK: Persiapan produksi listrik di PLTSa Putri Cempo terus disempurnakan agar April bisa beroperasi. (M. IHSAN/RADAR SOLO)
SOLO - Pengoperasian Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Putri Cempo yang rencananya dioperasionalkan April ini diminta dikaji ulang. Sebab, dari hasil penelitian Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jateng Desember  2021, tenaga pembaharuan ini masih banyak kekurangan.

Staf Ahli Walhi Jateng Nur Colis mengatakan, konsep dari PLTSa ini masih belum zero waste. Sebab, masih menyisakan abu sisa pembakaran sampah.

"Kemudian dari kontrak, untuk pengoperasian ini berjalan selama 20 tahun. Padahal sampah yang saat ini ada di Putri Cempo apabila dibakar, hanya membutuhkan waktu 10 tahun," katanya usai melakukan audiensi dengan DPRD Kota Surakarta kemarin (22/3).

Dampak lain, kata Colis, mata pencaharian 70 orang pemulung yang biasanya mengais rezeki di lokasi itu akan hilang apabila seluruh sampah di lokasi itu dijadikan bahan bakar. Kemudian sapi tidak bisa lagi berkeliaran di kawasan itu.

"Kami juga sudah memeliti di PLTSa Benowo, juga menghasilkan suara bising sehingga menggangu masyarakat sekitar. Karena sistemnya sama, pasti akan menghasilkan keluhan yang sama," tutur Colis.

Atas dasar itu, Colis meminta pengoperasian PLTSa yang direncanakan bulan depan ditunda dulu sampai dampak dari analisis dampak lingkungan (AMDAL) ini bisa diselesaikan.

Sementara itu, Ketua Komisi III DPRD Kota Surakarta Y.F Sukasno yang memimpin proses audiensi kemarin menuturkan, meksi proyek PLTSa ini menggunakan APBN, namun DPRD terus berkoordinasi dengan PT Solo Metro Citra Plasma Power (SMCPP) selaku investor maupun dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surakarta.

"Untuk pemulung, sampah di sana itu masih banyak. Dan ada tempat khusus bagi warga yang biasanya memulung tetap bisa bekerja. Kemudian soal ternak memang nanti tidak bisa wira-wiri lagi, opsinya kemarin dikandang, kemudian pemilik mencarikan pakannya," katanya.

Sedangkan terkait limbah, lanjut Sukasno, karena sudah menggunakan teknologi gasifikasi maka tidak ada asap yang ditimbulkan. Abu sisa pembakaran juga direncanakan akan dibuat menjadi batako.

"Kalau tadi membandingkan dengan PLTSa Benowo, kami juga sudah pernah ke sana untuk studi banding, dan tidak ada suara bising saat beroperasi," katanya.

Sampah di Kota Solo setiap hari menghasilkan 250-300 ton. Dan saat ini sampah sudah menumpuk sampai seluas 17 hektare. Kalau dibakar memang diasumsikan habis dalam 10 tahun. Tapi pertambangan sampah ini terus berlangsung. Kemudian kalau nanti sampah habis, pemkot akan bekerjasama dengan kabupaten tetangga agar sampah mereka dibuang ke Putri Cempo untuk diolah," urai Sukasno

Sukasno menuturkan, saran penghentian operasional PLTSa tidak realistis dengan keadaan saat ini. Apalagi proyek ini hampir selesai dan April sudah jalan. “Kalau masukan bolehlah, tapi kalau minta dihentikan tidak masuk akal," katanya. (atn/bun/dam) Editor : Damianus Bram
#pltsa #Tunda Operasional PLTSa #Komisi III DPRD Surakarta #Walhi Jateng #PLTSa di Putri Cempo