Racham Rio Riyanto, driver ambulans RSUD Dr Moewardi mengungkapkan, dia kerap dibuat jengkel dengan ulah pengendara jalan yang tidak memberikan akses kendaraannya saat melintas. Khususnya dalam situasi darurat.
"Biasanya anak muda. Kami sudah membunyikan sirene, tapi ambulans kami tetap dihalangi," keluhnya saat mengikuti ujian sertifikasi ambulans di lapangan Uji SIM Polresta Surakarta, Minggu (27/3).
Dia mengakui berbagai langkah sudah dilakukan agar pengendara bisa memberi jalan. "Kadang sudah kami klakson, tapi tetap saja tidak diberikan jalan. Padahal kami bawa pasien, yang notabennya perlu mendapat pertolongan medis. Biasanya pengendara seperti itu saya beri shock terapi. Dimana dengan memperhatikan arus kendaraan dan lebar jalan, agak saya pepet. Biasanya minggir sendiri mereka," ujarnya.
Selain driver, penyebrang jalan maupun pesepeda yang tiba-tiba muncul saat ambulans melintas juga kadang membuatnya harus ekstra hati-hati saat bertugas.
"Pernah juga lewat pabrik, pas saya mau lewat, eh malah satpamnya menyeberangkan pegawainya. Padahal sirene sudah saya hidupkan," papar pria yang sudah 5 tahun terakhir menjadi driver ambulans tersebut
"Belum lagi kalau didalam ada keluarga pasien yang marah kalau jalan macet. Saya ya sabar saja kalau menghadapi itu. Karena saya harus tetap konsentrasi. Tapi banyak juga keluarga pasien yang membantu saya, ketika ada yang menghalangi laju kendaraan, mereka yang teriak-teriak supaya memberi jalan," sambungnya
Tak hanya di jalan saja yang menjadi tantangan, namun komunikasi antara keluarga pasien dan pihak rumah sakit juga kadang merepotkan sopir. Terutama saat pandemi Corona meledak beberapa waktu lalu. "Banyak keluarga pasien yang tidak jujur. Misal keluarga mereka terpapar Covid-19, tapi tidak ngomong. Padahal penanganan pasien Covid-19 dan non Covid-19 itu ada SOP tersendiri,” tuturnya.
Dia mengakui untuk pasien Covid-19 memang mengharuskan pihaknya memakai APD supaya kita tidak terpapar. “Karena kami driver juga manusia biasa, juga rentan terpapar. Dan punya keluarga di rumah juga. Mungkin karena dulu Covid-19 itu dianggap masih aib, jadi malu. Padahal itu membahayakan juga. Tapi sekarang sudah berubah. Sudah bukan dianggap aib lagi. Jadi komunikasi juga sudah baik," ujarnya. (atn/nik) Editor : Damianus Bram