Karena lajur flyover dipenuhi massa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI), kendaraan yang berasal dari arah timur terpaksa jalan perlahan. Bunyi klakson terdengar beberapa kali dibunyikan para pengendara. Bersautan dengan teriakan para demonstrans akan tutuntan mereka.
Sekitar 15 menit mereka melakukan longmarch sambil membawa sejumlah spanduk tuntutan antara lain: Tolak Kenaikan Harga Sembako, Rakyat Menggugat Kenaikan Harga Minyak, BBM Melejit Rakyat Menjerit. “Harga minyak naik presidennya ke mana?,” teriak sang orator sambil berjalan.
Sampai di sisi barat flyover, sejumlah massa langsung membuat lingkaran di tengah simpang empat Purwosari. Agar tak memenuhi badan jalan, massa akhirnya diminta pindah ke bawah flyover. Satu persatu perwakilan mahasiswa mengutarakan orasi mereka. Massa sendiri baru membubarkan diri sekitar pukul 18.00, tak lama setelah azan Magrib berkumandang. Massa sempat mengancam tidak akan membubarkan diri sebab mereka merasa ada atribut aksi yang disita pihak kepolisian.
Penanggung jawab aksi Wisnu mengatakan, massa sengaja menggelar aksi di kawasan Purwosari untuk mencari atensi. Mengingat Flyover Purwosari merupakan salah satu ikon Kota Bengawan.
“Lebih strategis dibandingkan dengan kantor DPRD ataupun balai kota,” ujar Wisnu usai menggelar aksi.
Dijelaskan Wisnu, tuntutan aksi kemarin masih senada dengan tututan aksi yang dilakukan di Ibu Kota Jakarta Senin lalu (11/4). Ada lima poin utama. Menolak kenaikan harga kubutuhan pokok, terutama minyak goreng, kenaikan pajak pertambahan nilai (PPN), kenaikan bahan bakar minyak (BBM) khususnya pertamax, serta penolakan terhadap wacana penundaan Pemilu 2024. Kemudian isu tiga periode bagi jabatan presiden.
“Kami juga meminta pemerintah menghentikan proyek pembangunan andesit di Padas,” paparnya.
Sementara itu, Kapolresta Surakarta Kombes Pol Ade Safri Simanjuntak menuturkan, pihaknya harus membubarkan para peserta aksi karena sesuai dengan kententuan UU, batas akhir penyampaian pendapat dimuka umum hanya sampai pukul 18.00.
“Alhamdulillah aksi berjalan tertib dan lancar sesuai harapan. Kami ucapkan terima kasih kepada adik-adik kami yang sudah menggunakan haknya untuk menyampaikan pendapat di muka umum, dan menjalankan kewajibannya untuk bersama-sama menghormati serta menghargai orang lain,” papar Ade.
Soal penyitaan atribut, Ade membantah hal tersebut. Memang aparat kepolisian mengamankan sejumlah atribut, namun itu diserahkan oleh warga sekitar. “Jadi karena tadi angin cukup kencang, ada atribut yang terbang, kemudian jatuh. Atribut sudah kami kembalikan semua dan klir,” ujar Ade.
Di bagian lain, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se eks Karesidenan Surakarta juga bakal menggelar aksi di Kota Bengawan Kamis besok (14/2). Masa diperkirakan 1000 orang.
Kordinator BEM eks Karesidenan Surakarta Widi Adi Nugoro mengatakan, secara garis besar ada tiga tuntutan dari para mahasiswa. Di antaranya mendesak pemerintah menstabilkan harga minyak goreng serta bahan pokok lainnya. "Kemudian mengkaji ulang kenaikan BBM serta mendesak pemerintahan untuk ketersediaan BBM. Selanjutnya mengkaji ulang UU IKN," ujarnya.
Menanggapi sejumlah aksi ini, Wali Kota Surakarta Gibran Rakabuming mengatakan akan mendukung atas pergerakan mahasiswa tersebut. "Silakan, santai wae. Nek ono demo (kalau ada demo) arep melu (akan ikut)," kata Gibran.
Gibran percaya potensi kerusuhan atas demo tidak akan terjadi karena tidak ada larangan untuk demo hingga saat ini. "Iya tidak apa-apa, demo biasa. Nggak ada kerusuhan di Solo. Tenang, sudah saya sampaikan silakan menyampaikan aspirasi secara damai," ungkapnya (atn/bun/dam) Editor : Damianus Bram