Amukan si jago merah pada pukul 13.30 itu menghanguskan 22 los di sisi utara Pasar Mebel Gilingan. Api dengan mudah berkobar karena banyak bahan mudah terbakar di pasar yang akan dijadikan sentra industri kecil menengah (IKM) khusus mebel itu.
"Itu (los yang terbakar) hanya sebagian kecil dari pasar mebel. Hanya satu blok. Cuma tadi (kemarin), laporannya agak terlambat, jadi (api) telanjur besar. Dalam waktu 15 menit, api bisa dipadamkan," terang Kepala Damkar Surakarta Sutarjo.
Terkait penyebab kebakaran, Polresta Surakarta masih melakukan penyelidikan. Dipastikan tidak ada korban jiwa atau luka dalam kejadian tersebut.
“Rekan-rekan masih bekerja untuk menelusuri titik awal kemunculan api disebabkan apa dan dari mana," terang Kabag Ops Polresta Solo Kompol Sutoyo.
Saat api membesar, kondisi los sedang kosong karena para pedagang masih libur Lebaran sekaligus mendekati batas akhir pengosongan los jelang pembangunan sentra IKM mebel.
“Munculnya api di lokasi los yang kosong. Selama libur Lebaran memang tidak ada aktivitas produksi," kata Muanam, 59, salah seorang pedagang mebel.
Melihat api mulai membesar, Sigit, 55, salah seorang pemilik los berupaya memadamkan dan meminta tolong warga Bibis Kulon RT 04 RW 18 Gilingan, Banjarsari.
Kebakaran itu membuatnya kaget karena tidak ada aktivitas produksi mebel. "Pekerjanya sudah pulang semua. Jadi memang kondisinya kosong. Kalau kebakaran karena korsleting listrik atau apa sebab lainnya, saya tidak tahu. Wong tidak ada listrik menyala," ujar Sigit.
Pedagang mebel lainnya, Bobby, 29, mengamini tidak ada aktivitas di lokasi yang terbakar. "Libur semua. Tidak ada proses produksi, tiba-tiba kebakaran. Heran juga kok kebakarannya dekat dengan waktu pengosongan (los)," ungkapnya.
Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Surakarta Heru Sunardi menjelaskan, kebakaran tersebut merupakan musibah bagi semua warga Kota Bengawan, khususnya pedagang Pasar Mebel Gilingan. Kejadian tersebut merupakan indikator bahwa pasar setempat sangat berisiko terbakar. Apalagi, kebakaran kali ini bukan kali pertama.
"Ini adalah musibah. Memang batas akhir pengosongan (los) 10 Mei. Tapi pasti akan ada kelonggaran untuk itu," tuturnya.
Bagaimana dengan nasib pedagang yang losnya terbakar? Heru mengatakan, mereka bisa difasilitas masuk lebih awal di pasar darurat Jalan D.I. Pandjaitan. "Bisa kami rapatkan. Kalau perlu masuk lebih awal (di pasar darurat) nanti disiapkan. Untuk penghapusan aset pasca kebakaran atau untuk persiapan sentra IKM mebel, diselesaikan bulan ini," paparnya.
Ditanya tentang kerugian materi, Heru belum bisa menghitung secara detail. Tapi, di dalam los yang terbakar tidak ada bahan produksi maupun stok mebel.
"Kerugian masih belum bisa dihitung, yang pasti ada 22 los terdampak kebakaran," pungkasnya. (ves/wa/dam) Editor : Damianus Bram