Perbedaan paling kentara adalah di ukuran fisiknya. Walabi tanah juga kerap disebut kanguru imut atau kanguru mini.
Kurator Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ), Ontowiryo Muhammad Panrus mengatakan, di Indonesia Timur, walabi tanah tersebar di wilayah Papua bagian selatan.
“Secara fisik, walabi tanah hampir sama dengan kanguru, karena memang masih satu kerabat. Bedanya, ukuran lebih kecil dan postur tubuh lebih membungkuk,” urainya, kemarin (6/5).
Sejatinya, walabi dari Indonesia Timur ini ada dua jenis, yaitu walabi tanah dan walabi pohon. Bentuk fisik keduanya berbeda karena menyesuaikan lokasi hidup masing-masing.
“Walabi pohon bentuk tubuhnya lebih bungkuk dan lebar karena hidupnya di pepohonan atau arboreal," terang pria yang akrab disapa Ryo itu.
Walabi tanah berpindah tempat dengan cara meloncat dan ekor yang kuat untuk membantunya berdiri tegak. Kantong pada si betina berfungsi sebagai tempat berlindung untuk anak.
"Bentuknya mirip kanguru. Ketika jantan bertemu jantan juga bisa bertengkar mempertahankan wilayah atau kelompoknya," terangnya.
Kanguru dan walabi tanah sama-sama hidup di lingkungan terbuka yang ditumbuhi banyak rumput sebagai lokasi berlindung dari predator. Mereka hidup berkelompok dengan model pejantan utama yang dikelilingi beberapa betina.
Di TSTJ, bentuk kandang dan cara pemeliharaan walabi tanah dibuat semirip mungkin dengan alam. Kandang walabi tanah berukuran 20x8 meter dan diisi 15 ekor.
“Di kandang kami siapkan tempat pakan, tempat sembunyi, kubangan air untuk mereka berendam, dan hamparan pasir atau tanah terbuka agar mirip seperti habitat aslinya," ungkap Ryo.
Walabi tanah merupakan hewan herbivora, sehingga pakan utamanya adalah tumbuh-tumbuhan. Untuk variasi bisa dilengkapi buah atau serangga.
“Penyakit yang paling berbahaya karena bisa menyebabkan kematian dalam durasi cepat adalah lumpy jaw atau infeksi pada rahang hewan,” jelasnya.
Penasaran dengan walabi tanah? Silakan datang ke TSTJ. “Status konservasinya bukan hewan dilindungi. Tapi namanya satwa liar akan lebih baik tetap hidup di alam liar. Kalau masyarakat ingin melihat atau memberi makan, ya datang ke tempat konservasi saja. Jangan memelihara sendiri,” urai Ryo. (ves/wa/dam) Editor : Damianus Bram