Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Car Free Day Dibuka Lagi: Warga Terfokus di Slamet Riyadi, Jensud Masih Sepi

Damianus Bram • Senin, 16 Mei 2022 | 03:56 WIB
LEBIH RAMAI: Jalan Slamet Riyadi masih menjadi favorit masyarakat menikmati car free day yang mulai dibuka kembali Minggu (15/5). (M. IHSAN/RADAR SOLO)
LEBIH RAMAI: Jalan Slamet Riyadi masih menjadi favorit masyarakat menikmati car free day yang mulai dibuka kembali Minggu (15/5). (M. IHSAN/RADAR SOLO)
SOLO – Segmen Gendengan-Ngapeman Jalan Slamet Riyadi masih menjadi lokasi favorit bagi pengunjung maupun pedagang yang terlibat dalam event car free day (CFD), Minggu (15/5). Panampakan berbeda justru terlihat di segmen Jenderal Sudirman (Jensud) maupun kantong pedagang kaki lima (PKL) di sekitarnya yang masih tampak sepi pada momen perdana dibukanya CFD setelah dua tahun vakum.

Pantauan Jawa Pos Radar Solo, momen perdana CFD Minggu (15/5) terbukti masih menjadi daya tarik utama bagi warga Kota Bengawan. Ribuan orang baik pengunjung maupun pedagang sama-sama berkegiatan dalam event mingguan tersebut.

"Dua tahun sempat terhenti dan akhirnya hari ini dibuka lagi. Makanya banyak banget orang yang datang pagi ini. Baguslah, warga bisa lagi dapat hiburan murah meriah seperti waktu sebelum pandemi," kata Agatha Krista, 28, yang kemarin bersama anak dan suaminya menikmati CFD.

Pada momen perdana itu, pusat keramaian memang masih terlihat di segmen Gendengan-Ngapeman. Seperti CFD sebelum pandemi, segmen tersebut memang lokasi terpopuler karena lokasi itu ramai dengan berbagai kegiatan dan jajanan sehingga membuat warga betah berlama-lama di lokasi itu.

Ini berbeda dengan situasi di segmen Jensud dan kantong pedagang di sekitarnya yang tidak seramai segmen Gendengan-Ngapeman itu. "Tadi sempat bersepeda bolak-balik dari ujung ke ujung. Memang yang paling ramai yang di Jalan Slamet Riyadi, kalau di Jensud memang belum ramai," imbuh warga Kampung Gulon RT 04 RW 9 Kelurahan Karangasem ini.

Keramaian yang tidak merata dan terkesan terpusat itu dibenarkan Kabid Sarana Distribusi Pedagangan Dinas Perdagangan Kota Surakarta Joko Sartono. Dari pantauannnya, mayoritas masyarakat memang terkesan lebih banyak melakukan kegiatan di segmen Gendengan-Ngapeman ketimbang di segmen Jensud. Ini berdampak pada kurang ramainya kantong PKL di luar pusat keramaian itu.

"Memang di Jensud dan kantong pedagang seperti di Galabo, Benteng Vastenburg, maupun Balai Kota masih agak sepi. Ini kan masih baru mungkin warga masih kurang familier,” ujar dia.

Soal keramaian di Gendengan-Ngapeman, kemungkinan karena CFD memang berdampingan dengan keberadaan pedagang di sepanjang citywalk. Sebab itu, warga berolahraga sambil menikmati aneka kuliner.

Dalam momen perdana itu, jumlah pedagang yang terlibat di CFD melebihi prediksi pedagang beberapa waktu lalu. Sebelumnya segmen Gendengan-Ngapeman diperkirakan diisi 800 pedagang, sementara di kantong pedagang lainnya diisi 1.118 pedagang. Faktanya, Disdag Kota Surakarta mencatat ada 1.300 pedagang yang menggelar lapak di segmen Gendengan-Ngapeman, sementara 1.118 lainnya ada di sejumlah kantong pedagang lainnya.

"Paling banyak memang di Gendengan-Ngapeman, karena 800 pedagang itu saja baru yang terdaftar paguyuban belum lagi ditambah yang belum terdaftar. Makanya tadi pedagang yang sudah terdaftar di paguyuban kami minta pakai KTA,” ujarnya.

Sementara itu bagi pedagang yang baru akan didata lagi dan diarahkan agar masuk paguyuban. Tujuannya biar ke depan bisa ditata lebih baik lagi.

“Untuk temuan lain memang kemarin pagi ada satu dua PKL yang berjualan di lokasi terlarang, tapi sudah ditertibkan satpol PP," beber Joko.

Wali Kota Surakarta Gibran Rakabuming Raka membenarkan bahwa keramaian CFD memang terpusat di Jalan Slamet Riyadi sementara Jalan Jenderal Sudirman terpantau masih belum ramai. Meski demikian dia mengapresiasi antusiasme masyarakat yang sangat tinggi terhadap event mingguan tersebut.

"Mungkin masih banyak warga yang belum tahu kalau CFD diperpanjang sampai Jensud ya. Catatannya paling ada pengunjung tidak pakai masker, soal kerumunan ya pasti kerumunan. Yang penting prokesnya saja," kata dia.

Selain kepatuhan masyarakat dalam menerapkan prokes, Gibran juga mendapati sejumlah pedagang berdagang di luar lokasi yang disiapkan. Selain itu dia mengaku mendapat masukan dari sejumlah pedagang yang belum terakomodasi. Meski demikian semua pedagang itu tetap dipersilakan tanpa ada satu pun yang ditolak oleh pemerintah.

"Untuk pedagang catatannya masih banyak pedagang yang belum paham zonasi. Ada juga yang mengeluh belum terakomodasi, tapi tenang saja semuanya tadi tetap difasilitasi dan tidak ada yang kami usir. Nanti tinggal diatur saja. Ini kami evaluasi dulu minggu depan biar diatur Disdag. Tapi semua harus masuk zonasi (lokasi yang sudah disiapkan)," tegas Gibran.

Catatan lain yang juga jadi perhatiannya adalah persoalan teknis menjajakan makanan, sampah, dan keberadaan toilet di sepanjang lokasi CFD. Untuk teknis menjajakan makanan, Gibran mengaku masih mendapati pedagang kuliner yang masih melakukan aktivitas cuci alat makan.

"Masih ada pedagang cuci piring, tempat sampah masih kurang, dan toilet portable juga perlu ditambah. Tidak masalah nanti kami evaluasi, yang penting antusias warga tinggi," tutur Gibran. (ves/bun/dam) Editor : Damianus Bram
#Solo Car Free Day #Car Free Day #CFD Kota Solo #Wali Kota Surakarta Gibran Rakabuming Raka