Sejak pukul 14.00 ratusan warga berjubel jadi satu di Simpang Tiga Gandekan, Jl RE Martadinata. Mereka antusias menyaksikan kirab budaya bertajuk kebhinekaan dan pancasilaisme yang sempat vakum selama dua tahun karena pandemi.
Tak berselang lama, sejumlah pejabat dan tamu penting mulai berdatangan. Acarapun dibuka dengan aksi Reog Ponorogo Handoko Kurdo yang baru setahun ini kembali dihidupkan pasca vakum satu dekade lamanya. Tak hanya pentas Reog Ponorogo, devile 270 warga dengan pakaian tematik berupa bergodo atau prajurit keraton hingga Paskibraka SMA Negeri 3 Surakarta ikut meramaikan kirab ini.
"Kegiatan ini sudah menjadi agenda tahunan saat peringatan Hari Lahir Pancasila. Sebelumnya memang sempat vakum dua tahun karena pandemi. Kirab ini melengkapi kegiatan bazar UMKM, lomba hias kampung Pancasila, dan umbul donga," terang Anton Setiadi, ketua panitia kirab bhineka.
Dengan adanya kegiatan ini, roda perekonomian warga yang sempat tersendat selama pandemi bisa mulai bergulir. Di sisi lain keguyuban warga Gandenan yang terkenal dengan keberagaman etnis, agama, dan sosial kemasyarakatan itu bisa semakin erat.
"Rangkaian kegiatan ini bisa menguatkan jiwa-jiwa Pancasila warga agar kerukunanan antar umat beragama semakin kuat dan solid," kata dia.
Wali Kota Surakarta Gibran Rakabuming Raka yang hadir dalam kirab budaya itu mengapresiasi kreativitas warga Gandekan, mengingat kirab ini merupakan kirab pertama skala kewilayahan yang dihelat di penghunjung pandemi Covid-19 ini.
"Saya apresiasi. Antusiasme warga bagus sekali, apalagi tiap RW menampilkan kelebihannya masing-masing. Ini sudah jadi agenda rutin di Gandekan, ya kita adakan lagi. Pandeminya kan juga mau selesai," hemat dia.
Menimbang situasi Covid-19 yang makin terkendali dengan catatan tujuh kasus aktif hingga kemarin, kirab ini bisa menjadi pemantik penyelenggaraan kirab skala kelurahan dan kecamatan di Kota Bengawan. "Kalau ini sukses nanti yang lain silakan. Yang penting angka Covid-19 tidak naik," tegas Gibran. (ves/bun/dam) Editor : Damianus Bram