Kegiatan tersebut merupakan bentuk dukungan upaya penetapan Hari Kebaya Nasional. Sekaligus mendorong pengakuan dari Unesco bahwa kebaya sebagai warisan budaya tak benda.
Ketua Dewan Pembina Tim Nasional Pengajuan Hari Kebaya Nasional Tuti Nusandari Roosdiono menuturkan, upaya menjadikan kebaya sebagai warisan yang diakui dunia telah dilakukan dengan matang. Mulai dari pembentukan panitia nasional, koordinasi dengan berbagai komunitas, hingga melibatkan sepuluh kementerian terkait yang dikoordinasi Kemenko PMK dalam rangka pengajuan Hari Kebaya Nasional pada 1 April.
"Kami bersyukur karena bisa terbentuk kepanitiaan nasional untuk bersama-sama mengajukan usul agar Indonesia memiliki hari khusus kebaya. Kebaya adalah warisan busana. Sebagai pewaris, tentu kita harus bergandengan tangan melestarikannya," jelasnya.
Ketua Umun Tim Nasional Hari Kebaya Nasional Lana T. Koentjoro menuturkan, parade kebaya di halaman Keraton Kasunanan Surakarta merupakan pioner sebelum dilanjutkan ke kota-kota lainnya.
Diharapkan, dukungan seluruh elemen masyarakat terhadap penetapan Hari Kebaya Nasional dan pengakuan Unesco semakin luas. “Tim nasional terdiri dari berbagai komunitas dan beragam profesi, serta latar belakang yang sudah mendapat rekomendasi dari Kemendikbud mengurus pengajuan Hari Kebaya Nasional yang diperingati setiap 1 April. Visi kami memberdayakan perempuan dalam meningkatkan jati diri bangsa melalui kebaya," tegasnya.
Ketua Panitia Parade Kebaya Nusantara R.Ay. Febry Hapsari Dipokusumo menambahkan, peran generasi muda sangat diperlukan guna mendukung pelestarian kebaya dan budaya adiluhung lainnya.
"Kegiatan ini didukung penuh Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Pura Mangkunagaran, dan Pemkot Surakarta. Seluruh elemen yang terlibat mulai dari komunitas pegiat budaya, abdi dalem, pekerja seni, pelajar, organisasi perempuan, hingga tokoh masyarakat. Mereka ikut menandatangani dukungan penetapan Hari Kebaya Nasional," beber dia.
Wakil Wali Kota Surakarta Teguh Prakosa yang turut hadir dalam kegiatan tersebut mengapresiasi seluruh tim dan panitia yang telah menjadikan Solo sebagai kota pertama gelaran parade budaya.
"Pemkot sangat mendukung kegiatan budaya karena berdampak positif pada pemulihan ekonomi secara menyeluruh. Banyak event nasional dan internasional yang mengambil tempat di Solo,” terangnya.
Terkait pelestarian kebaya, Teguh berharap, busana tersebut tidak hanya dipakai pada momen tertentu. Tapi bisa diaplikasikan sesuai kebutuhan. Termasuk dipadukan dengan gaya berpakaian lainnya yang sesuai peruntukannya. (ves/wa/dam) Editor : Damianus Bram