"Tahun ini, BPS melaksanakan sensus penduduk lanjutan. Karena sebelumnya sudah dilakukan pada 2020. Kemudian perlu dilanjutkan lantaran memenuhi kebutuhan data yang lebih rinci. Sensus sebelumnya, kami hanya mengumpulkan data yang terkait makronya. Sementara data yang bersifat sangat detail, kami lakukan sekarang," beber Kepala BPS Kota Surakarta, Totok Tavirijanto kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin.
Rencananya, sensus penduduk lanjutan ini dilakukan pada 2021. Namun terkendala kondisi pandemi Covid-19 yang masih tinggi, sehingga ditunda sampai tahun ini. Totok menyebut perlu segera melakukan sensus penduduk ini karena banyak indikator kependudukan yang datanya belum memadai. Termasuk indikator MDGs yang belum semuanya disiapkan oleh BPS.
“Harapannya, tujuan sensus lanjutan ini adalah untuk mendapatkan indikator terkait kependudukan yang lebih baik," sambungnya.
Totok menyebut, data sensus penduduk lanjutan ini fokus pada kebutuhan akses disabilitas, sehingga semua rumah tangga yang tersampel dan memiliki anggota keluarga disabilitas, pasti akan ditanya terkait kebutuhan khusus yang diharapkan. Di samping juga beberapa data lainnya, seperti angka migrasi, kelahiran, dan kematian.
Untuk mendapatkan data yang lebih detail, BPS menyiapkan pertanyaan yang cukup panjang. Sebanyak 83 butir. Menggunakan IT gadget selama pendataan, petugas tidak lagi membawa lembaran kuisioner. Cukup melalui smartphone.
Sebanyak 187 petugas terlatih diterjunkan melakukan sensus. Sebelum turun ke lapangan, para petugas sudah melakukan pemutakhiran data penduduk terbaru.
“Berbeda saat sensus penduduk pada 2020, semua warga Kota Solo disasar menjadi responden. Kali ini kami melakukan survei besar dengan wilayah yang disensus sebanyak 641 blok. Mencakup seluruh kelurahan. Masing-masing blok sensus akan diambil sampel rumah tangga sebanyak 16 orang. Jadi kurang lebih 10 ribu orang itu sampel yang akan kami dapatkan dari sensus penduduk lanjutan ini," urai Totok. (aya/wa/dam) Editor : Damianus Bram