Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Lahan Kota Solo Sempit, Sulit Perluas Ruang Terbuka Hijau

Damianus Bram • Jumat, 22 Juli 2022 | 14:00 WIB
RUANG PUBLIK: Ibu melatih buah hatinya bersepeda di Taman Lansia Jebres. Taman-taman kota dioptimalkan dengan dana CSR. (M. IHSAN/RADAR SOLO
RUANG PUBLIK: Ibu melatih buah hatinya bersepeda di Taman Lansia Jebres. Taman-taman kota dioptimalkan dengan dana CSR. (M. IHSAN/RADAR SOLO
SOLO – Terbatasnya luas wilayah Kota Solo menjadi tantangan dalam pemenuhan ruang terbuka hijau (RTH) sebesar 20 persen. Salah satu solusinya, pemkot memaksimalkan RTH yang telah ada menggunakan dana corporate social responsibility (CSR).

“CSR digunakan menata RTH berupa taman-taman di pinggiran kota. Dampaknya bukan pada (penambahan) luasan RTH-nya, tapi cukupan RTH yang sudah ada. Misalnya, RTH yang belum tertata bisa lebih baik,” terang Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surakarta Gatot Sutanto, Kamis (21/7).

Merujuk data website dlh.surakarta.go.id, RTH di Kota Solo seluas 373,07 hektare (Ha). Rinciannya, 187,56 Ha merupakan RTH taman dan hutan kota; 21,17 Ha merupakan RTH jalur hijau jalan; dan 164,33 Ha RTH tertentu seperti bantaran sungai dan lainnya.

Photo
Photo
Photo
Photo


Gatot mengakui, RTH publik di Kota Solo belum mencapai 20 persen sesuai yang diatur Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.

“RTH ini ada yang jenisnya RTH publik dan privat. RTH publik kami sekitar 7-8 persen dari total luas wilayah Kota Solo, kalau RTH privat (swasta/rumah) sekitar 9 persen. Sesuai regulasi, 20 persen RTH publik dan 10 persen RTH privat. RTH publiknya masih kurang banyak. Tapi karena menambah luas RTH cukup sulit, sekarang yang dioptimalkan adalah cakupannya. Jadi memaksimalkan fungsi dan peran RTH yang sudah ada,” beber dia.

Catatan DLH, RTH publik yang tersebar di 362 titik dalam kondisi baik, 80 titik dalam kondisi rusak ringan, dan 23 titik dalam kondisi rusak berat. Dana CSR digunakan untuk perbaikan RTH rusak.

“Yang belum baik ini kondisinya masih rerumputan atau ditumbuhi tanaman perdu. Karena lahan terbatas, yang harus dimaksimalkan adalah cukupannya. Dengan begitu, dampaknya pada iklim kondusif, resapan air, dan sejenisnya bisa dicapai,” ungkap Gatot.

Perbaikan RTH diperkirakan butuh waktu sekitar empat bulan dan ditargetkan rampung November nanti. “CSR dari Pertamina untuk buat taman edukasi, tahun ini jadi. Nanti lokasinya di Danukusuman (Serengan). Pas di pinggir gapura, ada dua sisi,” terang Wali Kota Surakarta Gibran Rakabuming Raka. (ves/wa/dam) Editor : Damianus Bram
#Ruang Terbuka Hijau #Wali Kota Surakarta Gibran Rakabuming Raka #Lahan Kota Solo Sempit #RTH di Kota Solo #DLH Kota Surakarta