Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Mengenal Monumen Perjuangan di Kota Solo, Pengingat Generasi Muda

Damianus Bram • Senin, 15 Agustus 2022 | 14:00 WIB
SIMBOL PERJUANGAN: Monumen bersejarah yang berada di Jalan Tentara Genie Peladjar No.1, Nusukan, Kec. Banjarsari. (M. IHSAN/RADAR SOLO
SIMBOL PERJUANGAN: Monumen bersejarah yang berada di Jalan Tentara Genie Peladjar No.1, Nusukan, Kec. Banjarsari. (M. IHSAN/RADAR SOLO
SOLO - Serangan umum empat hari 7-10 Agustus 1949 menjadi momen bersejarah dan terus diperingati warga Kota Bengawan hingga hari ini. Jejak-jejak perjuangan dan sisa-sisa keganasan dalam pertempuran melawan Belanda itu masih bisa ditemui dalam bentuk tugu maupun monumen yang tersebar di berbagai penjuru kota.

Prasasti Perjuangan PMI

Salah satu kisah kelam masa lalu dan peristiwa berdarah dalam mempertahankan kedaulatan Indonesia 1945-1949 diabadikan melalui Prasasti Kebhaktian Rakyat di halaman Pasar Gading Solo. Prasasti yang diresmikan oleh menteri pertahanan pada 1987 itu menjadi pengingat pembantaian di kediaman dr KRT Padmonegoro yang terjadi pada 11 Agustus 1949. Belanda sengaja melanggar genjatan senjata dengan menyerang Markas PMI Surakarta.

“Tentara Belanda yang juga beranggotakan orang-orang pribumi yang pro Belanda menyerang markas PMI Surakarta yang sebetulnya hanya diisi relawan dan pegawai PMI. Peristiwa berdarah ini diabadikan dengan prasasti di Pasar Gading. Dan prasasti ini termasuk monumen kecil yang terpelihara dengan baik sampai hari ini,” ujar pegiat sejarah dari Komunitas Soerakarta Walking Tour Muhammad Apriyanto.

Bentuk merawat dan mengenang jasa para pendahulu terhadap keganasan tentara Belanda melalui prasasti itu terus dilakukan oleh PMI Surakarta. Dua tahun ini, PMI Surakarta mulai mencari jejak sejarah masa lampau tentang berdirinya PMI Surakarta. Penelusuran itu membuka fakta bahwa di masa silam relawan kemanusiaan dan pegawai PMI kala itu dibantai oleh tentara Belanda.

“Kejadiannya di barat simpang Gading, tepatnya di Dalem Padmonegoro (kediaman dr KRT Padmonegoro). Lokasi itu markas PMI Surakarta yang kedua, sementara beliau (Padmonegoro) ketua PMI Surakarta pertama,” ujarnya.

Pada 1995 pernah dilakukan napak tilas di Dalem Padmonegoro sebelum berganti bentuk secara fisik. Kemudian berlanjut ke lokasi Prasasti Kebhaktian Rakyat di Pasar Gading.

“Dalam prasasti ini muncul nama PMI karena ada tujuh sampai delapan orang petugas PMI yang ikut dibantai dalam peristiwa tragis itu,” kata Kepala Markas PMI Surakarta Budi Purwanto.

PMI Surakarta sampai hari ini rutin memelihara prasasti, tugu, monumen yang berkaitan dengan mereka. Selain prasasti kecil di halaman Pasar Gading, mereka juga menemukan satu prasasti lain yang berkaitan dengan PMI di Gedung Joang 45, Pasar Kliwon. Prasasti yang diresmikan pada 1 Maret 1989 itu sebagai peringatan Laskar Putri Indonesia Surakarta pada 11 Oktober 1945.

“Dalam prasasti ini ada keterlibatan anggota PMI untuk mendukung perjuangan pasca kemerdekaan itu. Sampai saat ini kami masih mencari data-data valid terkait prasasti-prasasti itu agar bisa didokumentasikan dan bisa terus dikenang hingga masa depan,” beber Budi.

Tugu Papagan-Harjo Toh Rogo

Photo
Photo
SIMBOL PERJUANGAN: Tugu Toh Rogo yang ada di Kawasan Pasar Kleco. (M. IHSAN/RADAR SOLO)

Ada juga Tugu Papagan di Kampung Tunggulsari, RT 06 RW 16 Pajang, Laweyan. Menurut sejarah, tugu ini dibangun untuk memperingati tiga tahun kemerdekaan Indonesia pada 1948.

“Versi lainnya mengatakan bahwa kampung kami sempat dibakar oleh Belanda (sebelum peristiwa Serangan Umum Surakarta 1949). Dari peristiwa itu dibangunlah tugu ini,” kata Dedi Suryanto, ketua RT setempat.

Keberadaan tugu di simpang jalan itu dipercaya sebagai peninggalan sarat sejarah oleh warga setempat. Bangunan tugu ini dipercaya warga melambangkan berbagai hal. Api menyala di bagian atas simbol semangat warga pasca merdeka, pilar tiga sisi melambangkan tiga tahun merdeka, sementara pondasi lima sisi merupakan simbol Pancasila sebagai landasan dasar negara.

“Bentuk tugu sederhana. Dulu ada seperti tatahan angka tahunnya. Karena kondisinya sudah rusak warga berinisiatif memugar tugu ini. Keinginan warga Tugu Papagan ini bisa dicagarbudayakan agar bisa lebih terpelihara lebih baik kedepannya,” kata Dedi.

Berdasarkan pelacakan sejarah, tugu papagan merupakan lokasi pertemuan tentara yang bentuknya bukan camp dan juga bukan markas pasukan. Tugu papagan di kawasan Kleco itu merupakan irisan antara Rayon 3 dan Rayon 4 Tentara Pelajar (Brigade 17). Lokasinya di pintu masuk sisi barat Solo menjadi lokasi konfrontasi ideal dengan pasukan Belanda kala itu.

“Sejarah Tugu Papagan ini merupakan lokasi terluar Solo untuk menghadang Belanda masuk kota. Bahkan ada cerita lokal di masyarakat, Jembatan Kleco ini sempat akan dihancurkan oleh tentara kita untuk menghalau Belanda. Tapi soal kebenaran cerita itu belum ada bukti pendukungnya,” ujar Apriyanto, pegiat sejarah Soerakarta Walking Tour.

Cerita lokal serupa juga ditemukan di Tugu Toh Rogo yang lokasinya tak jauh dari Tugu Papagan. Meski belum ada bukti otentik untuk mendukung kebenaran cerita tersebut, masyarakat setempat mempercayai kalau tugu atau monumen kecil itu merupakan sesuatu yang benar terjadi.

Monumen berbentuk sosok pria dengan satu kaki yang memegang kruk itu dipercaya warga merupakan sosok asli yang hidup di masa itu. Beliau diabadikan lantaran mengorbankan jiwa raga karena berani menghadang tank Belanda. Namun Apriyanto memandang monumen itu sebagai bentuk simbolisasi dari perjuangan warga yang bukan datang dari pasukan militer kala itu.

“Harjo Toh Rogo, saya pikir ini simbol perjuangan dan perlawanan masyarakat sipil terhadap serangan Belanda kala itu. Soal kepercayaan warga bahwa Harjo yang mempertaruhkan jiwa raga ini memang belum ditemukan dalam dokumen,” kata dia.

Prasasti Monumen Ganesya

Photo
Photo
SIMBOL PERJUANGAN: Monumen Ganesya yang ada di Jalan Tentara Pelajar, Gilingan, Kec. Banjarsari. (M. IHSAN/RADAR SOLO

Prasasti di Simpang Tiga Bibis Jalan A. Yani, Banjarsari itu diresmikan Panglima TNI L.B. Moerdani kala itu. Dalam prasasti itu dituliskan “Lambang Kejuangan Kebaktian Tentara Pelajar TNI Brigade 17”. Melalui monumen itu, L.B. Moerdani mengajak seluruh elemen bangsa untuk berjuang mewujudkan cita-cita kemerdekaan melalui beberapa kalimat di monumen itu.

“Monumen-monumen seperti ini memang biasanya dibuat oleh mereka yang dulu pernah berperan langsung dalam peristiwa itu dan sudah menjadi sosok yang berhasil di masa tuanya. Tujuannya jelas untuk mengenang masa perjuangan dahulu dan mengajak generasi sekarang untuk meneruskan semangat pada pendahulu bangsa,” beber Wahid Nur Rifai, pegiat sejarah lain dari Komunitas Soerakarta Walking Tour.

Prasasti yang juga kerab disebut sebagai tugu ganesa itu berkaitan langsung dengan kiprah Tentara Pelajar pada momentum Serangan Umum Surakarta. Hal ini juga sama dengan keberadaan Tugu Brigade 17 yang dibangun di dekat Jembatan Tirtonadi, tepatnya di ujung pintu masuk ke Jalan Tentara Genie Pelajar (TGP).

Tentara Genie Pelajar ini juga merupakan barisan pendukung Tentara Pelajar. Bedanya pasukan yang memakai nama Genie ini merupakan prajurit di belakang layar yang tugasnya tidak konfrontasi langsung dengan pasukan Belanda.

“Tentara Genie Pelajar ini bukan kompi khusus, namun pasukan yang lebih condong pada suplai logistik dan persediaan alat perang. Mereka-mereka inilah tokoh utama di balik pengeboman jembatan-jembatan untuk menghalau kendaraan perang pasukan Belanda. Beberapa dokumen lawas baik berupa arsip tulisan maupun dokumen foto menunjukkan keberadaan Tentara Genie Ini. Untuk mengabadikannya dibuatlah tugu ini,” terang Wahid Nur Rifai.

Tentara Genie Pelajar juga dipakai untuk menamai jalan alternatif yang membentang dari utara Jembatan Tirtonadi hingga Jembatan Ngemplak. Jalan yang dinamai dengan nama pasukan logistik itu dulunya merupakan jalur masuknya Tentara Genie Pelajar untuk masuk ke rayon kota pada momen Serangan Umum Surakarta.

Dari barat mereka masuk kota melalui jalur di sekitar Kali Anyar sebelum masuk lewat Banjarsari. Di titik yang kini digunakan sebagai lokasi prasasti Monumen Ganesya itu mereka berpisah jadi dua kelompok. Kelompok pertama menuju ke Jembatan Jurug, sementara kelompok lainnya menuju ke rayon kota yang lokasinya saat ini diperkirakan ada di sekitar Monumen Banjarsari.

“Banyak sekali prasasti atau monumen skala kecil yang tersebar di berbagai sudut kota, hanya saja banyak generasi sekarang yang tidak paham. Tantangannya adalah bagaimana memelihara sejarah-sejarah seperti ini,” tutup Wahid. (ves/bun/dam) Editor : Damianus Bram
#Harjo Toh Rogo #Prasasti Kebhaktian Rakyat #Monumen Perjuangan di Solo #Tugu Papagan #monumen Bersejarah di Solo #Monumen Perjuangan #Komunitas Soerakarta Walking Tour