Kepala Bidang Veteriner Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Surakarta, Agus Sasmita mengatakan satu ekor kebo Kiyai Slamet mati pada Senin (15/7). Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan, kerbau itu memiliki riwayat PMK. "Kebo bule yang mati ini bukan kebo bule yang ikut kirab malam satu sura kemarin. Matinya Senin lalu dengan kondisi riwayat PMK," terang dia, Selasa (16/8).
Ia mengaku belum mengetahui pasti faktor yang membuat kebo bule mati pada Senin (15/8) sore itu. Sampai saat ini pihaknya masih menunggu hasil uji lab dari Kementerian Pertanian dan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jawa Tengah. "Sampel untuk uji lab (riwayat PMK) diambil pada Senin pekan lalu. Jadi penyebab matinya hewan belum kita ketahui. Masih diuji lab juga," beber dia.
Meski demikian, kebo yang mati itu sempat mengalami perbaikan kondisi setelah terpapar PMK beberapa waktu sebelumnya. Oleh sebab itu ada kemungkinan kematian karena penyakit lain di luar PMK. "Kemungkinan ada faktor lain, tapi kami menunggu hasil resmi dari dinas terkait. Antisipasi lain, dari keraton telah memisahkan totalnya tujuh ekor kebo dari Alun-alun Kidul ke Magangan agar kasus PMK tidak meluas," kata Agus.
Terpisah, Wali Kota Surakarta Gibran Rakabuming Raka meminta dinas terkait membantu pemisahan antara kerbau yang sakit dan kerbau yang sehat. Di samping itu, ia menginstruksikan agar mempercepat proses vaksinasi pada hewan. "Yang sehat dipisahkan, vaksinasi dan pendampingan sampai penyembuhan diperlukan. Dikurangi interaksi dengan manusia, karena rawan tertular dari manusia," tegas Wali Kota. (ves/dam) Editor : Damianus Bram