Tokoh masyarakat Kota Solo Sumartono Hadinoto mengetahui meninggalnya Susyana dari Vonny Imelda Lukminto, putri sulung almarhumah.
"Mbak Vonny (Vonny Imelda Lukminto), jam 03.00 menelepon saya memberi kabar bahwa ibunya meninggal. Lalu jam 05.00, Mas Iwan (Iwan Setiawan Lukminto, putra kedua almarhumah) juga telepon saya mengabari hal yang sama,” jelasnya, kemarin.
Pria yang akrab disapa Martono ini mengatakan, sejak setahun terakhir, kesehatan Susyana kurang baik. Sempat dirawat di Amerika Serikat. "Mei lalu pulang untuk merayakan ulang tahun bersama keluarga dan kolega. Saya ikut diundang. Ngobrol sebentar dan bersalaman. Terlihat ceria, segar, dan sehat. Ternyata itu pertemuan terakhir kami. Karena setelah itu, terbang lagi ke Singapura untuk berobat. Baru dua pekan ini pulang (ke Kota Solo), terus dapat kabar meninggal itu," beber Martono.
Kedekatan Martono dengan keluarga besar H.M Lukminto terjadi sejak pabrik Sritex masih berada di kawasan Baturono, Solo. Mereka kerap bertemu. "Seperti keluaga sendiri. Sering ngobrol, saling memberi semangat," ujarnya
Di mata Martono, Susyana merupakan sosok ceria dan pekerja keras. Hampir kesehariannya dihabiskan di pabrik. "Semua (manajemen) keuangan yang pegang beliau. Beliau sangat teliti,” katanya.
Terpisah, Wakil Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia-Jawa Tengah Liliek Setiawan menuturkan, Susyana merupakan figur seorang ibu yang sempurna. Selain bisa mengayomi keluarga, sekaligus mengelola bisnis sepeninggal sang suami.
"Bisa meneruskan tongkat estafet manajemen perusahaan. Jadi waktu Pak Lukminto meninggal, perusahaan tidak goyah. Bahkan semakin besar, malah menjadi Tbk (perusahaan dengan status kepemilikan saham terbuka atau publik). Itu terjadi di era Bu Susyana," jelasnya.
Terpisah, Direktur Operasional Solo Paragon Lifestyle Mall Budianto Wiharto mengenal almarhumah sebagai pengusaha yang ulet, pekerja keras, dan rajin. “Sosok itu yang selalu menjadi panutan sesama rekan bisnis," ujarnya.
Budi, sapaan akrabnya, mengaku salut dengan karakter Susyana dalam menjalankan bisnis. Tegas dalam berdagang. Karakter itu yang membawa Sritex menjadi perusahaan besar.
“Saya mengenal beliau sejak pabriknya masih di Pasar Kliwon. Sampai akhir hayatnya, sosoknya tidak berubah. Tetap pantang menyerah. Perjuangannya merintis karir memang luar biasa ulet," bebernya.
Hussein Syifa, salah seorang sahabat keluarga Presiden Gus Dur mengatakan, Susyana selalu menemani mendiang H.M Lukminto tiap kali Shinta Nuriyah Abdurrahman, istri Gus Dur datang berkunjung ke Sritex.
Ketika ada kesempatan berkunjung ke Kota Bengawan, Shinta Nuriyah selalu berbelanja di Sritex. "Sejak Pak Lukminto masih hidup, sampai wafat, Bu Lukminto selalu menemani Bu Shinta berkeliling toko. Baik yang ada di Sukoharjo atau di sebelah restoran Diamond," ucapnya.
Hussein menjadi saksi sosok Susyana yang humble dan selalu memuliakan tamunya. Bahkan Susyana selalu mengajak anak-anaknya menemui Shinta Nuriyah sampai acara kunjungan berakhir. Tiap kali pertemuan, suasana kunjungan terasa hangat dan menyenangkan.
"Guyonan yang selalu saya ingat ketika Pak Lukminto masih sugeng (semasa hidup), beliau mengatakan 'siapapun tentaranya, apapun negaranya, seragam militernya tetap Sritex'. Itu selalu menjadi guyonan setiap kami bertemu dengan Bu Shinta. Dan selalu Bu Lukminto dan Bu Shinta tertawa dengan ceria," urainya.
Coorporate Communication Sritex Joy Citradewi menuturkan, Susyana berpulang dalam keadaan bahagia. Di detik-detik terakhirnya, dia ditemani seluruh keluarga besar. "Beliau meninggal sekitar pukul 02.42 dalam keadaan tenang dan damai. Dari keluarga juga sudah ikhlas," ujar dia.
Ditambahkannya, Susyana sempat mendapat perawatan medis di Singapura. "Namun atas kehendak beliau, ingin pulang ke Solo, ke rumah. Beliau lebih merasa nyaman di rumah, dikelilingi keluarganya," pungkasnya. (atn/aya/wa) Editor : Damianus Bram