Suasana seperti ini jauh berbeda dengan geliat deman thrifting yang sedang digandrungi masyarakat yang hadir dalam setiap pameran pakaian import bekas di Kota Bengawan.
“2016 saya masuk pasar ini karena pertimbangan harus ada barang yang dipajang agar perputarannya jalan. Harapannya banyak orang yang masuk ke pasar untuk mencari barang ke sini. 2016-2017 masih tinggi peminatnya, 2018 mulai menurun dan makin sepi saat pandemi kemarin. Kalau dibandingkan dengan yang ikut pameran itu ya jauh berbeda,” kata penjual pakaian bekas di Pasar Notoharjo, Hendra Hartawirjana, 39.
Disinggung soal kualitas atau asal pakaian bekas itu, ia menyebut pakaian-pakaian bekas itu didapat dari jejaring yang sama. Pakaian-pakaian bekas yang dijual eceran itu awalnya dibeli dalam bentul ball (karung ukuran 100 kilogram). Dulunya pedagang pakaian bekas harus memiliki koneksi dengan pemasok dari daerah Sumatra, namun untuk saat ini banyak pemasok yang bisa langsung mendatangkan barang langsung ke Solo.
“Sebetulnya dengan yang ada di pameran pun bisa bersaing karena yang harga murah dari puluhan ribu sampai harga yang jutaan kami juga ada,” beber Hendra.
Ketua Paguyuban Pedagang Pakaian Pasar Notoharjo, Ahmad Parjianto mengatakan 40-50 pedagang pakaian yang ada berada di pasar tersebut datang dari berbagai lokasi, namun memang mayoritas pindahan pedagang pakaian bekas dari kawasan Banjarsari.
Masa-masa keemasan jual-beli pakaian bekas di Pasar Notoharjo terjadi di era 2000 an hingga 2010 an. Walau sempat surut beberapa tahun fenomena itu meningkat sekitar tahun 2015 an.
“Kalau untuk fenomena yang nge-trend baru-baru ini dibilang ada dampaknya ya ada, kalau dibilang tidak berdampak ya bisa. Karena mereka itu tidak ambil barang di sini tapi dari suplier-suplier mereka sendiri. Tapi kalau menimbang omzetnya ya normal-normal saja tiap tahunnya. Terdampaknya karena harga ball pakaian itu naik terus karena banyak peminatnya jadi belinya sekarang sudah mahal. Ambil contoh saja, satu ball jaket (100 kg) itu Rp 550 ribu (tahun 2000) sekarang jadi Rp 6,5 juta,” hemat dia.
Melihat fenomena pakaian bekas yang lagi digandrungi masyarakat, pihaknya berharap pedagang di Pasar Notoharjo juga bisa dapat untuk dari fenomena seperti itu. Hanya saja minimnya koneksi dan perbedaan generasi membuat mereka tidak mengenal para pedagang sejenis yang kerap ikut pameran itu. Alasan itulah yang membuat paguyuban pengen menggelar event mandiri agar pedagang-pedagang pasar klitikan bisa ikut merasakan untung dari demam thrifting yang booming saat ini.
“Kami itu pengen buat event semacam itu, ya ini baru sebatas omongan di antara pedagang. Kalau bisa kesampaian harapannya pasar ini bisa ramai lagi,” harap Parjianto. (ves/dam) Editor : Damianus Bram