Promotor Pasar Rakyat Sekaten Muntohar mengatakan, persiapan gelaran pasar rakyat yang bertepatan dengan sekaten ini sudah dimulai sejak jauh hari. Bahkan, komunikasi dengan Keraton Surakarta sudah terjalin beberapa tahun terakhir.
“Kami mulai jauh sebelum pandemi karena waktu itu alun-alun utara dipakai untuk pasar darurat, jadi kami geser ke selatan. Kemudian pandemi vakum, dan akhirnya tahun ini kami dizinkan menggelar pasar rakyat lagi,” kata Muntohar.
Pasar rakyat sekaten tahun ini digelar di dua lokasi. Lokasi pertama di alun-alun utara dengan kegiatan jual beli khas sekatenan lengkap dengan wahana permainan. Sementara di lokasi kedu dia alun-alun selatan selain jual beli ada wahana permainan yang dilengkapi konser musik rakyat.
“Dua lokasi ini untuk memecah kepadatan pengunjung karena Covid-19 kan belum selesai. Lokasi konser kami tarik ke selatan karena di utara ini nuansanya lebih lekat dengan kegiatan adatnya dan dengan lingkungan Masjid Agung juga,” ujar pengusaha dari Demak ini.
Ada ratusan tenant di event yang digelar 18 September hingga 16 Oktober ini. Tarif sewanya pun sangat fantastis karena mencapai jutaan hingga belasan juta.
“Kemarin memang sempat ada ramai-ramai soal harga lapak paling tinggi sampai Rp 12 juta. Sebetulnya ini terkait zona terbaik di event ini. Bahkan akhirnya bisa turun Rp 10 juta untuk zona A ini. Junlahnya ada 48 unit. Kalau yang lainnya Rp 1-3 juta. Bahkan untuk pedagang tradisional seperti pedagang suruh kinang kami gratiskan,” kata dia.
Berbeda dengan sebelumnya, pada sekaten kali ini nuansa modern terasa dengan hadirnya konser musik. Mulai dari artis daerah hingga artis yang sedang booming atau masuk jajaran artis nasional.
Tiketnya bervariasi. Mulai dari Rp 20 ribu per tiket sampai Rp 150-250 ribu per tiket tergantung artisnya. Diprediksi pengunjung yang hadir 500 orang per hari. Sementara pengunjung sekaten diperkirakan minimal 5 ribu orang setiap hari.
“Dengan potensi itu kami yakin perputaran uang di pasar malam sekaten ini di momen puncak bisa mencapai Rp 1 miliar dalam sehari. Bahkan, animo sekaten di Jogja tidak sebesar di sini (Solo),” ujar Muntohar.
Waskito, salah satu pedagang makanan seafood di alun-alun kidul mengakui biaya sewa cukup mahal. Dia harus merogoh kocek sekitar Rp 2 juta lebih untuk sewa tempat.
“Memang biaya sewa cukup mahal. Tapi kalau lihat artis pengisi acara ada Abah Lala yang lagi viral dan lainnya saya optimis ramai. Apalagi sudah dua tahun vakum,” ujarnya.
Hal serupa juga diungkapkan Nanik. Salah satu penjual mainan ini juga mengaku harga sewa lumayan mahal. Namun, dia masih mampu meraup untung 20 persen lebih untuk menutup biaya sewa.
“Semoga bisa laris sebulan ke depan karena biaya sewanya juga lumayan (mahal). Kebetulan kan sudah lama tidak ada pasar malam karena pandemi,” ungkapnya.
Di bagian lain, Wakil Pengageng Sasana Wilapa Keraton Surakarta KP Dani Nur Adiningrat mengatakan, pasar rakyat sekaten ini dihelat lebih awal daripada kegiatan adat sekaten dalam rangka menyambut Maulud Nabi Muhammad SAW. Ini menjadi angin segar dikalangan masyarakat setelah dua tahun tak hadir.
“Selain pasar rakyat ada juga rangkaian kegiatan adat. Mulai dari jamasan pusaka, miyos gangsa, natab gangsa, kundur gangsa, miyos hajad, sampai dalem pareden Maulud,” ujarnya.
Kegiatan adat akan dimulai Oktober. Ada juga tabuh gamelan pusaka dan Grebeg Maulud di Masjid Agung. “Konsep pasar rakyat dan ritual adat ini sudah dilakukan dari generasi ke generasi dengan harapan kesejahteraan bagi rakyat kerajaan,” imbuh dia. (ves/ian/bun) Editor : Damianus Bram