Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Jembatan Mojo Ditutup, Intensitas Jembatan Sesek Semakin Padat

Damianus Bram • Rabu, 28 September 2022 | 14:40 WIB
ANTREAN PANJANG: Para pengendara melintasi jembatan rakitan yang menghubungkan Kampung Beron, Kelurahan Sewu, Solo dengan Desa Gadingan, Mojolaban Sukoharjo, kemarin. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)
ANTREAN PANJANG: Para pengendara melintasi jembatan rakitan yang menghubungkan Kampung Beron, Kelurahan Sewu, Solo dengan Desa Gadingan, Mojolaban Sukoharjo, kemarin. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)
SOLO – Penutupan Jembatan Mojo menimbulkan fenomena unik yang muncul di sudut Sungai Bengawan. Daerah tempuran berarus pelan yang menghubungkan Kampung Beton, Kelurahan Sewu, Solo dengan Desa Gadingan, Mojolaban, Sukoharjo kini dilengkapi jembatan rakitan. Berbahan bambu dan tong.

Meski harus merogoh kocek Rp 2.000 untuk bisa melintasi menggunakan kendaraan motor, warga dan pengendara dari berbagai wilayah tak mempermasalahkan. Pengendara memilih melintasi jembatan ini ketimbang harus memutar jauh, mengingat Jembatan Mojo kini tengah ditutup.

“Kalau warga lokal memang pilih lewat sini karena lebih dekat. Ya merasa diuntungkan daripada harus memutar jauh,” ucap Angraini, warga Mojo, Sukoharjo yang sehari-hari bekerja usaha penatu di Wilayah Gandekan, Solo itu.

Sejak tiga bulan lalu, Jembatan Sesek mulai dimanfaatkan warga setempat untuk melintas setelah kabar perbaikan Jembatan Mojo santer di masyarakat. Intensitas penggunanya pun meningkat tajam pasca penutupan Jembatan Mojo yang dilakukan Senin (26/9) lalu. “Lewat sini karena lebih cepat. Sekali lewat bayar Rp 2.000,” ungkap Suripto, 40, Warga Plumbon, Mojolaban, Sukoharjo.

Menyeberang via Jembatan Sesek yang menghubungkan Desa Gadingan dan Kampung Beton dirasa lebih efisien dalam hal mempersingkat waktu tempuh. Lebih baik ketimbang harus memutar lewat jalur alternatif yang disarankan baik lewat Telukan via Karangwuni maupun lewat Jurug via Bekonang.

”Sebelum ada jembatan yang model ini dulu juga pernah ada jembatan model lainnya dan ada juga getek. Biasanya getek itu dipakai kalau arus Sungai Bengawannya lagi tinggi, kalau pas asat (dangkal) ya biasanya memang ada yang buat jembatan bambu,” jelas Suripto.

Pengelola Jembatan Sesek Hala memastikan pembangunan jembatan bambu macam ini memang dilakukan tiap tahunnya, khususnya saat air Sungai Bengawan sedang surut. Pihaknya mengakui intensitas pemanfaatan meningkat seiring penutupan Jembatan Mojo dilakukan untuk perbaikan.

”Sebelumnya hanya ada satu jalur (melintas bergantian, Red), karena penggunanya banyak kemarin kami tambah satu jalur lagi. Jadi bisa langsung dua arah untuk menghindari penumpukan seperti Senin (26/9) sore kemarin,” jelasnya.

Jembatan yang terbuat dari bambu dan tong sepanjang 70 meter, senilai Rp 35 juta. Hala mempekerjakan banyak orang untuk operasional dan pengawasan di lapangan. Karena operasional 24 jam, pihaknya juga melengkapi jembatan dengan lampu penerangan dan sebagainya. “Kalau nanti airnya naik ya kami tutup demi keamanan, nanti diganti pakai getek (perahu kayu, Red),” papar Hala. (ves/nik/dam) Editor : Damianus Bram
#jembatan mojo ditutup #Revitalisasi Jembatan Mojo #penutupan jembatan mojo #Jembatan Sesek