Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Jembatan Darurat Sesek Berisiko, Wacana Pembangunan Jembatan Gantung Kembali Muncul

Damianus Bram • Sabtu, 1 Oktober 2022 | 14:15 WIB
TAK BISA DILINTASI: Jembatan darurat penghubung Kampung Ngepung, Sangkrak, Pasar Kliwon dengan Desa Gadingan, Mojolaban, Sukoharjo putus diterjang sampah bambu dan kayu Kamis malam (29/9). (M. IHSAN/RADAR SOLO)
TAK BISA DILINTASI: Jembatan darurat penghubung Kampung Ngepung, Sangkrak, Pasar Kliwon dengan Desa Gadingan, Mojolaban, Sukoharjo putus diterjang sampah bambu dan kayu Kamis malam (29/9). (M. IHSAN/RADAR SOLO)
SOLO – Wancana pembangunan jembatan gantung yang menghubungkan Kampung Beton (Solo) dan Desa Gadingan (Sukoharjo) kembali mencuat setelah pemkot sidak ke jembatan darurat sesek kemarin. Jembatan darurat alternatif pasca penutupan Jembatan Mojo itu sebenarnya jalur resmi penyeberangan dengan perahu. Namun, mengingat masyarakat sering menggunakan jembatan itu maka ada usulan lagi untuk membangun jembatan gantung.

Kabid Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Surakarta Joko Supriyanto memastikan, lokasi yang digunakan warga untuk membuat jembatan tidak permanen. Dari bambu dan drum plastik itu merupakan titik penyeberangan resmi yang disepakati antara Pemkab Sukoharjo dan Pemkot Surakarta. Hanya saja izinnya adalah penyeberangan dengan perahu di mana pemenang lelang sebelumnya juga mendapat hibah perahu dari Dinas Perhubungan Sukoharjo pada 2020 lalu.

"Pengelolanya merupakan pemenang lelang di Sukoharjo dengan izin penyeberangan perahu. Jadi izinnya bukan penyeberangan jembatan, tapi perahu," kata dia, Jumat (30/9) usai peninjauan jembatan sesek bersama dinas perhubungan dan kontraktor pembangunan proyek Jembatan Jurug.

Antisipasi keamanan dilakukan mengingat jembatan sesek itu kerap dibangun pengelola saat debit air Sungai Bengawan surut. Pemkab Sukoharjo dan Pemkot Surakarta telah melakukan kajian pembangunan jembatan gantung yang menghubungkan Beton-Gadingan. Sayang kajian yang matang sejak tiga tahun lalu itu tidak ada kelanjutannya hingga hari ini.

"Kajian sudah dilakukan 3 tahun lalu. Titik ini akan dibuat jembatan gantung sesuai permohonan Pemkab Sukoharjo. Dan pemkot sudah menyetujuinya. Tahapannya sudah sampai finalisasi DED dan sidang untuk mendapatkan rekomendasi teknis dari Dirjen SDA Kementerian PUPR untuk pemanfaatan badan air. Prosesnya sudah mendekati final, tapi belum ada kelanjutan," kata Joko.

DPUPR Surakarta telah berkoordinasi dengan dinas terkait dari Pemkab Sukoharjo perihal jembatan gantung itu. Khususnya tentang pengajuan ulang permohonan pembangunan jembatan seperti yang direncanakan tiga tahun lalu. Ini penting dilakukan melihat lokasi ini jadi jalur alterbatif bagi warga sekitar dengan intensitas perlintasan yang cukup tinggi.

"Kami sudah berkoordinasi dengan Pemkab Sukoharjo, bisa tidak permohonan ini diulang lagi. Mungkin permohonan dulu sudah expired jadi perlu diperbarui. Yang pasti ini titik resmi sejak 1987," jelas dia.

Sekadar informasi, hasil peninjauan yang dilakukan DPUPR, dinas perhubungan, dan kontraktor Jembatan Jurug B menghasilkan sejumlah catatan seperti upaya penyetabilan jembatan dengan penambahan drum sebagai bantalan penyangga, rangka besi untuk menstabilkan getaran, hingga penambagan tali penguat untuk menstabilkan posisi dari derasnya arus sungai.

"Kami sudah konsultasi dengan kontraktor dan DPUPR untuk jembatan sesek ini. Sementara kami minta pengelola untuk melakukan penguatan secara mandiri. Misalnya dengan menambah sesek bambu agar pijakan jembatan stabil dan penyiagakan petugas untuk membantu warga yang melintas,” ujar Kepala Dinas Perhubungan Kota Surakarta Taufik Muhammad.

Yang jelas kata Taufik, jembatan ini hanya besifat sementara. Setekah Jembatan Mojo selesai maka harus dibongkar.

Sekadar informasi, hingga akhir September ini ada dua perlintasan tidak resmi yang dibangun warga dengan konsep jembatan sesek. Yang pertama ada di Kampung Beton (Solo) - Desa Gadingan (Sukoharjo) yang bisa diakses melalui Kelurahan Sewu, Jebres. Titik lain di Kampung Ngepung - Desa Gadingan yang diakses melalui Kelurahan Sangkrah.

Usai hujan lebat yang disertai angin pada Kamis lalu (29/9) jembatan penghubung Ngepung-Gadingan ini putus usai diterjang sampah bambu dan kayu yang terbawa aliran Bengawan Solo.

"Putusnya Kamis malam sekitar pukul 22.00. Diterjang sampah bambu dan kayu yang terbawa air. Waktu kejadian tidak ada yang melintas karena sejak hujan pukul 19.00, akses jembatan sudah kami tutup. Hari ini kami perbaiki, paling cepat besok pagi baru bisa dipakai," kata Damar, 53, warga yang ikut mengelola penyeberangan via jembatan sesek di Kampung Ngepung itu. (ves/bun/dam) Editor : Damianus Bram
#Jembatan Gantung #Dishub Kota Surakarta #Jembatan Sesek #DPUPR Kota Surakarta