SILVESTER KURNIAWAN, Radar Solo
KESUKSESAN menjadi mitra driver benar-benar dialami Yunita Ika Sari, 40. Wanita yang terdaftar sebagai mitra GoCar ini mulai menjalankan bisnis barunya di bidang distribusi sembako. Kemampuan mengelola keuangan dan bertahan di situasi sulit selama pandemi itulah yang akhirnya membuat Yunita sukses hingga saat ini.
Bahkan, kini Yunita menjadi salah satu vendor Gojek di Solo pada Bazar Sarwo Legi yang digelar secara rutin sejak beberapa waktu terakhir.
Yunita masuk sebagai Mitra GoCar setelah memutuskan pensiun dari profesi lamanya. Rampung dari marketing produk otomotis, warga Gentan, Sukoharjo ini memutuskan untuk menjadi driver Gojek pada 2017 lalu. Situasi yang cukup pelik dengan banyaknya penolakan dan potensi konflik tidak menghentikan langkah Yunita untuk tetap memberikan pelayanan di balik kendaraan yangd ia kemudikan.
“Ada area-area yang online tidak bolek masuk. Misalnya di sana ada pangkalan taksi, pangkalan ojek, atau lainnya. Selama kita tidak masuk ke area-area sensitif itu aman-aman saja. Waktu itu sebulan saya bisa dapat bersih Rp 15 juta. Itu pun hanya dari pagi sampai petang saja. Pendapatan seperti itu, pegawai di Solo nggak ada yang bisa ngalahin,” kata Yunita pada Jawa Pos Radar Solo, Kamis (27/10) lalu.
Pendapatan lebih dari cukup dengan pola kerja tak terikat itu memang cukup menyenangkan. Namun, kondisi itu berubah drastis kala Covid-19 mewabah di Indonesia. Maret 2020, kasus pertama Covid-19 muncul di Solo, Pemerintah Kota (Pemkot) Solo langsung meningkatkan kewaspadanan dengan mengumumkan status KLB (kejadian luar biasa) Corona.
Kebijakan pembatasan kegiatan itu akhirnya disusul daerah-daerah lain, hingga diterapkan secara nasional dengan istilah PPKM (pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat) Darurat. Situasi ini menggoyang kestabilan mitra driver, baik GoRide maupun GoCar.
Orderan GoCar benar-benar terhenti. Larangan yang diberlakukan pemerintah serta situasi pandemi yang acap kali menimbulkan ketakutan di tengah masyarakat itu benar-benar berpengaruh terhadap mitra driver seperti Yunita.
Setahun berlalu, Yunita hanya bisa mengandalkan tabungannya selama beberapa tahun terakhir menjadi mitra GoCar di Solo. Masuk tahun kedua pandemi, dia mulai cari akal untuk bisa memutar keungan yang masih tersisa. Hingga akhirnya Yunita memberanikan diri menjadi distributor sembako.
Ya, dari transportasi ke sembako. Rupanya, ada cerita menarik bagaimana Yunita bisa terjun jadi distributor sembako itu. Yang ternyata juga tak jauh-jauh dari perjalanannya sebagai driver Gojek.
“Saya beralih menjadi distribusi sembako itu juga dari Gojek. Selama jadi driver GoCar, saya itu punya pelanggan tetap yang ternyata bos besar sembako. Selama di jalan, saya belajar dari cerita-cerita beliau. Nah ketika saya mau beralih ke sembako, saya ingat customer saya ini. Akhirnya saya samperin, ternyata beliau masih ingat dengan saya. Dari sana akhirnya kami bisa jadi rekan bisnis. Jadi berawal dari GoCar antara driver dan customer, akhirnya jadi mitra bisnis,” terang dia.
Saat ini penghasilan dari toko sembako miliknya bisa mancapai Rp 30 juta per bulan. Keberhasilan itu akhirnya diketahui oleh manajemen Gojek Solo. Hingga akhirnya mengandeng Yunita untuk menjadi pemasok dalam kegiatan Bazar Sarwo Legi yang digelar tiap bulan di Kantor Gojek Solo. Pasar Murah sembako untuk mitra driver (GoRide dan GoCar) ini cukup membantu karena para mitra bisa membeli kebutuhan pokok di bawah harga pasaran dengan subsidi dari Gojek.
“Gojek cukup konsisten dan sudah baik memperhatikan para mitranya. Misalnya di program pasar murah ini, jadi sembakonya dari saya, kemudian dibeli oleh manajemen lalu dijual lagi dengan harga d ibawah pasaran ke mitra Gojek. Jadi ada subsidi harga dari Gojek ke para mitra berupa voucher untuk membeli sembako di kegiatan ini. Sama-sama. Saya sebagai rekanan yang menyediakan sembakonya diuntungkan, para mitra pun terbantu karena mendapat sembako dengan harga murah,” papar dia.
Yunita kini memiliki kedekatan lebih dengan manajemen Gojek Solo. Karena itu, ide baiknya untuk membuat warmindo dan warung kelontong Gojek Nongkrong (GoNongkrong) pun direstui pihak manajemen. Solo jadi satu-satunya kantor resmi Gojek yang memiliki warung kelontong, di mana warung ini menyediakan sembako dengan harga murah untuk para mitra driver. Bahkan dilengkapi layanan makan dan minum jika ada mitra yang lelah saat on beat keliling Solo.
“Bisa dibilang ini UMKM Mitra, saya kan mitra. Di sini mitra driver bisa beli sembako dan kebutuhan sehari-hari dengan murah, jadi bukan hanya saat ada bazar saja. Di lokasi ini mitra juga bisa makan dan minum, jadi bisa jadi one stop service-nya Gojek lah. Kebetulan usulan saya ini di-acc dan sudah berjalan hampir dua tahun sampai hari ini,” ucap Yunita.
Warung GoNongkrong ini pun bisa menjadi berkah lebih banyak orang. Karena buka 24 jam nonstop, direkrut dua pegawai yang menjaga warung secara bergantian. Dua pegawai yang dipekerjakan pun merupakan istri dari mitra Gojek, dengan harapan kesejahteraan mitra bisa terdongkrak dengan usahanya itu.
“Warung ini bukan hanya untuk mitra Gojek, masyarakat umum pun bisa. Hebatnya konsep ini hanya ada di Solo. Baru Solo yang punya warung model seperti ini. Karena saya mendapat kesuksesan ini dari Gojek, saya pengin kawan-kawan juga bisa ikut merasakan manfaat dari usaha saya ini. Apalagi perhatian pemerintah pada mitra Gojek sudah makin baik, saya harap kesejahteraan kawan-kawan juga ikut meningkat. Bersama Gojek pasti ada jalan,” tutup Yunita.
Bisa Cari Uang Sambil Momong Anak
Pasti Ada Jalan, tagline yang dipilih Gojek benar-benar dijadikan pedoman bagi mitra driver untuk bisa meraih kehidupan lebih layak. Keyakinan inilah yang juga dipegang oleh seorang mitra driver (GoRide) lainnya, Yeni Suryani, 45.
Yeni menceritakan, dia menjadi mitra Gojek pada awal 2017. Atau selang setengah tahun sejak Gojek pertama masuk Solo. Waktu itu, kata dia, situasi masih cukup menantang karena masih banyak penolakan. Mulai dari ojek pangkalan, taksi, bahkan pemerintah.
“Untung saja, lambat laun kami makin diterima sebagai penyedia jasa yang memang bermanfaat untuk masyarakat,” ucap dia usai mengikuti pembekalan antisipasi pelecehan dan kekerasan seksual pada perempuan di Kantor Gojek Solo.
Usia yang tidak lagi muda, pertimbangan itulah yang membuat Yeni merasa Gojek lah satu-satunya pilihan terbaik untuk dia terus bekerja demi memenuhi kebutuhan sehari-hari sang buah hati. Karena itu, wanita yang akrab disapa Bunda Yeni ini mengaku tidak khawatir dengan pilihannya waktu itu. Patuh terhadap regulasi yang sudah diatur manajemen, jadi kunci agar terhindar dari konflik dengan penyedia layanan transportasi lainnya di masa awal-awal Gojek masuk Solo.
“Saya keluar dari pekerjaan saya yang lama karena waktu itu harus momong anak yang masih kecil. Akhirnya mendaftar Gojek untuk jadi mitra driver karena tidak terikat waktu, juga bisa mengawasi anak-anak. Sejauh kita bisa mematuhi aturan, tidak ada masalah,” kata dia.
Meski penuh dengan tantangan dan suka duka di lapangan, mitra driver asal Klodran, Karanganyar ini mampu meraup penghasilan sampai Rp 6 juta per bulan. Jerih payah itu akhirnya membuat Bunda Yeni bisa tersenyum bahagia. Sebab, anak tertuanya kini sudah bekerja sambil meneruskan pendidikan di bangku kuliah, sementara yang kecil sudah duduk di bangku SMP.
“Saya selalu menikmati pekerjaan. Kalau dilakukan dengan iklas pasti ada jalan di kemudian hari. Karena itu, situasinya pun mulai berubah. Dulu Gojek ditolak, kini diterima. Kami juga mulai diperhatikan pemerintah lewat berbagai program, seperti vaksinasi Covid-19, bantuan sembako, dan bansos. Manajemen Gojek juga tak kalah perhatian,” tutur Bunda Yeni.
Hal serupa dirasakan Srikandi Gojek lainnya, Nova Setiawati, 24. Warga Sragen yang bergabung dengan Gojek sejak 2018 itu mampu menyelesaikan kuliah perhotelan dengan hasil jerih payahnya sendiri selama menjadi mitra driver.
“Bisa dibilang bisa lulus kuliah ini karena bekerja jadi driver Gojek. Saya asli Sragen, kebetulan merantau ke Solo untuk kuliah. Saya pengin membiayai kuliah dan biaya kos di Solo dengan hasil keringat sendiri, biar tidak membebani orang tua di kampung. Alhamdulillah sekarang sudah lulus, saya malah bisa bukak usaha warung makan dan sudah ada di layanan GoFood,” papar Nova.
Bukan Sekadar Mitra Kerja, namun Keluarga
Beroperasi sejak 2010 lalu, Gojek tumbuh menjadi perusahaan terkemuka di Asia Tenggara dan jadi role model platform on-demand, pelopor ekosistem multilayanan. Lima tahun awal, Gojek mampu membuktikan efisiensinya sebagai pilihan terbaik untuk mobilitas masyarakat. Masuk 2015, layanan Gojek berkembang dengan banyaknya fitur baru, baik dari segi mobilitas, pengantaran makanan, maupun logistik.
Beranjak ke tahun 2016, Gojek meluncurkan layanan GoPay untuk mendukung gerakan cashless yang dicanangkan pemerintah. Pada Gojek melakukan ekspansi hingga Vietnam dan Singapura. Sementara di 2021, Gojek kolaborasi dengan Tokopedia untuk menciptakan GoTo.
“Gojek selalu berupaya meningkatkan pendapatan mitra usaha melalui pemutakhiran fitur serta layanan (teknologi, Red), serta memberi pelatihan-pelatihan bagi pelaku usaha untuk meningkatkan kemandirian mitra UMKM dan meningkatkan pendapatan mitra driver,” kata Head of Regional Corporate Affair Gojek Central, West Java, & DIY Mulawarman.
Dengan prestasi itu tak heran jika Gojek makin diterima masyarakat. Hingga saat ini sedikitnya ada 2,6 juta mitra driver, lebih dari 1 juta mitra merchant, hingga berkontribusi pada perekonomian nasional dengan nilai transaksi mencapai ratusan triliun rupiah tiap tahunnya.
Untuk Solo Raya, sedikitnya ada 12-14 ribu mitra driver (GoRide dan GoCar) yang aktif hingga hari ini. Dari jumlah itu 7-9 ribu beroperasi di Solo Kota. Apakah mitra driver bisa bertambah?
“Tergantung kondisi lapangan, karena kami juga harus menjaga keseimbangan jumlah mitra di lapangan yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Ini untuk menjaga keberlangsungan pendapatan mitra yang lebih proper,” terang dia.
Untuk menjaga hubungan baik dengan mitra, Gojek memiliki aplikasi bernama Gopartner. Aplikasi ini terintegrasi untuk seluruh pengemudi roda dua dan roda empat di seluruh Indonesia, Singapura, dan Vietnam. Tujuannya menjaga mitra driver tetap tangguh, khususnya di masa pandemi dengan berbagai program seperti menghadirkan posko aman bagi mitra dan bekerja sama dengan pemerintah dalam percepatan vaksinasi.
Selain itu, Gojek juga memberikan suport pada pemerintah dalam distribusi alat kesehatan selama pandemic. Serta membantu memastikan masyarakat yang menjadi mitra tetap mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dampaknya pendapatan mitra GoRide meningkat 24 persen dan GoCar meningkat 18 persen secara nasional.
“Di Solo ada program pasar murah, namanya Bazar Sarwo Legi yang sudah berlangsung selama enam bulan terakhir. Di sini para mitra bisa membeli kebutuhan pokok, perawatan kendaraan, dan lainnya dengan harga miring dengan subsidi dari Gojek. Program ini ada di setiap wilayah, hanya penerapannya tergantung kebutuhan masing-masing wilayah,” terang Mulawarman.
Soal kepedulian terhadap mitra driver, Gojek memberikan pelatihan dan pembekalan agar selalu aman saat beraktivitas. Di Solo, Gojek memberikan pelatihan beladiri yang rutin dilakukan tiap pekan, pembekalan antisipasi pelecehan dan kekerasan seksual pada mitra driver perempuan, bekerja sama dengan pemerintah, dan sebagainya. Tak heran jika para Srikadi Gojek merasa aman dan nyaman, sekali pun harus bekerja di lapangan.
“Kami mengedepankan unsur keamanan baik untuk mitra pria maupun wanita. Kami memiliki fitur keamanan. Antisipasi lainnya dilakukan pelatihan beladiri praktis dan sosialisasi dengan menggandeng pemerintah kota/kabupaten setempat. Bagi kami mitra bukan hanya rekan kerja, namun sudah seperti keluarga,” tutup dia.
Aplikasi Berbasis Online Mudahkan Warga, Ekonomi Tumbuh Pesat
Pemkot Solo memiliki sejarah panjang dalam melakukan kerja sama dengan e-commerce, perusahaan aplikasi berbasis digital guna menguatkan ekonomi selama pandemi Covid-19. Awal pademi 2020 lalu, Program Digitalisasi Pasar Tradisional gencar dilakukan. Salah satunya dengan menggandeng Gojek sebagai mitra untuk meningkatkan penjualan produk-produk pangan yang ada di pasar tradisional.
Dengan kerja sama itu transaksi digital tumbuh 20-40 persen pada tahun awal pandemi itu. Kemudian di 2021, giliran sektor UMKM digenjot agar bisa makin adaptif dengan sistem transaksi digital. Hasilnya di akhir tahun itu, Solo jadi kota terbaik ketujuh di sektor digitalisasi secara nasional, dengan pertumbuhan ekonomi mencapai 4,01 persen. Pada tahun yang sama, angka pengangguran turun 0,07 persen 2021, sementara UMKM tumbuh pesat, mencapai 55.000 UMKM menunggu diverifikasi hingga 2022 ini.
“Kita harus mengikuti perkembangan zaman. Walau sempat ada penolakan, saya akui aplikasi berbasis online seperti Gojek ini memudahkan pergerakan warga, mudah diakses, cepat dan efisien, juga murah karena kadang-kadang ada diskon. Kelebihannya bisa mengantar manusia, makanan, paket, dan semuanya,” ungkap Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka.
Ke depan, lanjut dia, UMKM pasar tradisional akan kita genjot untuk go digital agar bisa on boarding untuk masuk e-commerce yang sudah tersedia.
“Selain itu juga mengurangi angka pengangguran, driver-nya kan banyak juga,” tandas Gibran. (ves/ria)
Editor : Syahaamah Fikria