Teknologi ini memberikan immersive experience bagi pengunjung. Merasakan langsung sensasi mendalang di dunia metaverse. Memanfaatkan sistem sensor, membuat visual di layar langsung bergerak menyesuaikan arah sensor saat itu juga. Real time, anti nge-lag.
"Kami berani mengklaim bahwa ada mal di Indonesia yang pertama kali mengadakan expo wayang di metaverse. Kami berkolaborasi dengan berbagai pihak, fotografer dan akademisi. Event ini sekaligus untuk memperingati Hari Wayang Dunia pada 7 November mendatang," ungkap Danny Johannes, business & marketing director The Park Mall Solo Baru, kepada Jawa Pos Radar Solo, Rabu (2/11).
Pagelaran wayang di dunia metaverse, disebut Danny sebagai upaya membawa pertunjukan wayang to the next level. Dengan memberikan sentuhan digital dalam pelestarian budaya yang telah diakui UNESCO ini.
"Di samping itu, banyak filosofi pewayangan yang masih relate dengan kehidupan sehari-hari. Anak-anak muda harus tahu filosofi ini. Makanya perlu dibuatkan sarana dan media yang menarik minat generasi milenial. Agar tetap lestari," jelasnya.
Akademisi Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta sekaligus fotografer wayang Fauzie Helmy menyebut wayang in metaverse tidak mengurangi esensi cerita dalam tokoh pewayangan. Namun justru menguatkan cerita wayang agar lebih bisa dinikmati generasi milenial. Tidak menghilangkan pakem pewayangan, etika tetap terjaga. Hanya estetikanya yang diubah.
"Jadi budaya tradisional bisa diajak lebih keren lagi. Ini adalah salah satu cara melestarikan wayang dengan sudut pandang berbeda. Mengangkat konten lokal budaya bernafas digital," ujarnya. (aya/bun/dam) Editor : Damianus Bram